Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Tentang Suatu Malam

Saat malam masih rendah, aku bersembunyi dari lomba lari yang diselenggarakan debar jantung. Sebab, aku ingin menceritakan sebuah hal tentang kamu dan rasa-rasa yang menjadi frasa atas ketegangan tiap nadi yang berdenyut untuk cahaya senyummu.

To Someone

Apakah makna dari jarak yang membentang, jika dua hati yang sering bersama dan mengenggem namun suatu hari mereka tak saling menggenggam dan berjauhan – tidak (lagi) saling cinta tepatnya. Aku sedang menulis ini sambil sesekali melempar pandanganku memperhatikan suasana kafe yang biasa menjadi tempatku menulis. Suasananya cukup ramai karena saat ini adalah malam Minggu. Beberapa muda-mudi yang datang kebanyakan bersama pasangannya.

Maybe Someday

Terkadang aku ingin berdoa seraya menangis kencang dalam kebisuan pada malam-malam lalu. Memperlihatkan kelemahanku pada Tuhan bahwa tidak semua perempuan dapat menahan kerinduan nya. Entah kapan kita pernah berjanji untuk bertemu, setelah sekian lama aku menabung pundi-pundi rindu yang kusimpan di dalam dadaku yang kian meringkih akibat harapanku sendiri dari waktu ke waktu.

Sajak Senja

Entahlah, Kukira ini senja untuk kesekian, dan untuk kesekian aku menikmati sendiri dengan secangkir teh. Mungkin kau juga sedang menikmati senja dikota yang berbeda, meneguk nikmat teh dengan potongan biskuit. Atas nama senja, kuserahkan rindu ini untuk disampaiakn pada rembulan lewat matahari yang akan tenggelam, kuharap detak rinduku bersama senja sampai dalam hatimu yang jauh ditempat berbeda :')

Entahlah

Ini bukan tentang siapa pria yang lebih tampan atau mapan. Tapi tentang pria yang bisa membuatmu merasa aman dan nyaman. Yang akan menggenggam tanganmu saat berjalan bersamanya. Yang menjagamu saat kau bersamanya. Yang menuntunmu saat kau kehilangan pijakan arah.Percayalah, akan ada saat dimana kau memahami, bahwa kau tak memerlukan pria tampan di sisimu. Melainkan pria yang akan membuatmu merasa aman.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…