Langsung ke konten utama

Maybe Someday

Terkadang aku ingin berdoa seraya menangis kencang dalam kebisuan pada malam-malam lalu. Memperlihatkan kelemahanku pada Tuhan bahwa tidak semua perempuan dapat menahan kerinduan nya.
Entah kapan kita pernah berjanji untuk bertemu, setelah sekian lama aku menabung pundi-pundi rindu yang kusimpan di dalam dadaku yang kian meringkih akibat harapanku sendiri dari waktu ke waktu.

Namun sayangnya penantian tak pernah sederhana, dan sayangnya penantian tak selalu menghasilkan temu. Kau tau? Aku selalu menghargai waktu dengan tidak membahasnya saat bersamamu. Kau tau? Setiap pertemuan adalah bom waktu menuju perpisahan hingga tiba saatnya entah dengan alasan apa di ujung jalan kita melepas genggaman.

Kau tau?
Tak ada yang benar-benar selamat dalam ucapan selamat tinggal.
Mungkin di lain hari kita akan bertemu kembali. Aku ingin melihat siapa di antara kita yang senyumnya paling bahagia.
Bersiaplah, bila suatu hari waktu itu tiba.
Kita berdua sama-sama hilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…