Saat malam masih rendah, aku bersembunyi
dari lomba lari yang diselenggarakan debar jantung. Sebab, aku ingin menceritakan sebuah hal tentang kamu dan rasa-rasa yang
menjadi frasa atas ketegangan tiap nadi yang
berdenyut untuk cahaya senyummu.
Engkau, pada mulanya seperti sebuah
pelangi, dan aku seorang penerjemah payah yang tuna netra. Aku mencoba
memahamimu dengan semua kemampuanku memahami warna tanpa harus lancang
menikmati keindahanmu. Dan, entah pada hari apa, dan entah kenapa aku
merasa sebuah jarak ganjil antara kita lewat ketinggianmu yang
tak bisa kuraih. Kau menghilang tanpa meninggalkan pesan dan kau pergi tanpa
penjelasan. Kau memang seperti pelangi yang hadir sejenak dengan sejuta warna
keindahan kemudian kau menghilang perlahan.
Aku pernah membayangkan kita menikmati
pemandangan bahagia dari sayap semesta tanpa harus bersama. Karena setiap
kali aku merindukanmu, aku harus lekas pulang pada rumahku, menumbangkan
harapan, atas nama tahu diri.
Pada akhirnya, kau hanya harus tau
sebuah hal tentang aku; seseorang yang mengangankanmu menginginkanku. Sebelum
luka tercipta di antara kita lewat waktu, mungkin ada baiknya aku berdoa saja
untuk cahaya senyummu lalu pergi.
… Karena malam telah meninggi dan denyut
jantungku perlahan berhenti.
Komentar
Posting Komentar