Langsung ke konten utama

Postingan

! Terpilih

Seruput kopi putih terakhirku sore itu. Entah mengapa, saat itu aku lebih memilihi kopi dibandingkan teh mungkin mataku mulai terkantuk-kantuk karena berjam-jam membaca deretan aksara indah kitab suci Al-Qur’an. Seharusnya aku tidak mengeluh dan mengambil air wudhu. Terlebih, aku istirahat sejenak sambil mengunyah camilan-camilan yang biasanya kuhindari. Di luar kebiasaanku. Klasik, aku mencoba gaya hidup sehat dan semakin hari tubuhku seakan menolak camilan terebut. Namun, tidak pada hari itu. Dan lagi sore yang biasanya ramai dengan celoteh kawan, menjadi hening.
Postingan terbaru

Muram

Semakin jauh, berdiri aku di senyap belukar air mata menatap senja. Kukira jari dan secangkir kopi hitam akan meredakan. Nyatanya, satu dua seduh an terasa hambar. Kukira retakan awan yang kuukir akan memastikan. Nyatanya, menjadi tafsir ketidak pantasan. Aku, pejalan lusuh yang kumuh, seorang pula beralasan, berkaca retak tak layak. Sembunyi haru di balik debu. 

Aku Bukan Kamu, Kamu Bukan Aku

Membacalah jika ingin menulis. Mendengarlah jika ingin berbicara. Mungkin kamu acap mendengar pepatah seperti itu, akupun begitu. Tapi haruskah kita selalu mendengarkan? Apa-apa yang dikatakan orang lain tentang kita? Haruskah kita selalu menanggapi kata tanpa makna? Haruskah kita menjadi baik di hadapan mereka-mereka yang bahkan tidak membuat kita merasa baik?

Me Time?

Mudah lelah padahal pekerjaan tidak seberapa, mudah marah padahal tidak ada sumber pencetus yang signifikan. Acap terdiam karena otak mendadak blank. Nggak tahu mau ngapain, padahal urusan begitu banyak. Atau tiba-tiba molor tanpa mengetahui penyebabnya, pola makan berubah, sulit konsentrasi dari nempel molor menjadi insomnia. Itulah tandanya untuk me time. “Alone, bukan lonely”,   menyendiri bukan kesepian, m enikmati beberapa saat untuk berdialog dengan diri sendiri.

Broke his Own Heart

Meski selalu ada kemungkinan, hati seringkali memaksakan diri untuk bertahan pada sebuah jatuh yang membuat pemiliknya lupa bagaimana cara tersenyum. Sampai saat ini, aku masih ingat beribu-ribu hari yang lalu, patah hati mengubah semua warna menjadi gelap. Menjadi hitam. Legam. Penuh rasa takut, bahkan hanya sekadar berbalas tatapan mata untuk sepersekian detik.