Langsung ke konten utama

To Someone


Apakah makna dari jarak yang membentang, jika dua hati yang sering bersama dan mengenggem namun suatu hari mereka tak saling menggenggam dan berjauhan – tidak (lagi) saling cinta tepatnya.

Aku sedang menulis ini sambil sesekali melempar pandanganku memperhatikan suasana kafe yang biasa menjadi tempatku menulis. Suasananya cukup ramai karena saat ini adalah malam Minggu. Beberapa muda-mudi yang datang kebanyakan bersama pasangannya.
Di depanku kini ada sepasang kekasih yang sedang berfoto, namun tidak lama kemudian mereka sibuk dengan gadget masing-masing. Sebuah pemandangan yang sudah tidak asing. Menurutku yang menjauhkan dua hati bukanlah jarak yang terhitung pada satuan kilometer saja, tetapi ketika bersama, namun perhatian tersita di hadapan layar kaca. Bagiku, itulah jarak yang sebenarnya paling jauh memisahkan sepasang kekasih. Jarak itulah yang tanpa disadari akan pelan-pelan memudarkan cinta yang dulu terawat dengan baik di hati mereka.

Baiklah, kurasa kita mulai dari sini. Aku tidak sedang membahas tiga paragraf pertama, melainkan tentang banyak pertanyaan tentang kita.
Hai, apa kabar kamu sekarang? Semoga kamu baik-baik saja di sana. Jika kamu bertanya perihal ‘kamu’ yang ku maksud itu siapa, anggap saja ‘kamu’ itu adalah seseorang yang ada namun tidak jelas siapa. Semoga kau mengerti untuk tidak menanyakan ulang.
Hai, mungkin malam ini kamu sedang dagang atau mungkin kamu sedang pergi bersama kekasihmu atau orang yang sedang dekat denganmu, atau keluargamu, atau temanmu, atau entahlah siapapun yang sedang bersamamu. Aku tidak tau dan tidak peduli dengan itu. Yang jelas semoga orang itu menjagamu dari dinginnya angin malam dan orang jahat yang bisa mencelakakanmu kapan saja ketika kamu lengah.
Bagaimana hari-harimu kemarin? Apakah menyenangkan seperti yang pernah kau ceritakan dulu saat kita masih sering chatting dan bertemu untuk menikmati ice cream buatanmu sambil menertawakan lucunya kehidupan? Atau kau sedang bersedih karena seseorang yang menyakiti hatimu pergi meninggalkanmu demi orang lain? Ah, semoga saja tidak. Karena jika itu terjadi dan aku mengetahui siapa orangnya, tolong jangan cegah aku untuk membuat orang itu menyesali perbuatannya, atau minimal membuat hidungnya patah bahkan hilang. Jujur saja, aku masih menunggu kabarmu, menunggu kau membalas pesan terakhir yang ku kirim dulu, namun sampai sekarang pesan itu belum terjawab, bahkan sepertinya tidak pernah kau lihat.

Jika kau bertanya sekarang aku bersama siapa, aku akan tersenyum menjawab. “Tidak ada.” Karena aku masih belum berniat membuka hatiku untuk siapapun. Meskipun aku tau kau tidak tau, atau memang tidak pernah menyadari itu. Dan kamu akan menyadarinya setelah membaca tulisan-tulisan di bawah ini. Aku tau dan bahkan aku sadar, ini adalah hal yang sia-sia.
Inilah yang kurasakan bersamamu selama ini. Aku tau aku cinta padamu, dan kamu.. Aku tau kamu jenuh dan kamu cinta pada orang lain. Kita bernasib sama, tetapi mengapa kita tak bersama saja karena kesamaan nasib? . Karena bagiku itu adalah hal yang menyedihkan. Mengapa? Karena itu semua percuma. Mengapa itu semua percuma? Karena kau menikmati rasa jenuhmu dan perasaan cintamu pada orang lain itu disosmed, tanpa pernah benar-benar tau bagaimana perasaanku. Apakah itu tidak menyedihkan dan sebuah hal tega jika tetap dilakukan?
Tidakkah itu hanyalah kepalsuan yang terpaksa dibenarkan atas nama cinta? Memang, hati bisa mengubah arah yang akan ditujunya, tetapi kalau tidak? Kita akan hancur dalam hitungan mundur. Menghancurkan apa yang telah kita tata dengan baik. Menghancurkan kebersamaan yang kita buat selama ini.
Maafkan aku yang telah merusak semua ini. Maafkan aku yang membuatmu kecewa atas kesalahan ucapanku dulu, yang membuatmu memilih pergi karena tak ingin menyakitiku lebih jauh karena tidak bisa membalasnya. Semoga ada kata maaf yang masih tersedia untukku meskipun itu tidak pernah diucapkan olehmu tentang hubungan ini.
Aku lupa rasanya menikmati kebersamaan, terakhir kali saat bersamamu, dan kini hanya ada aku dan secangkir kopi cappuccino latte  yang pahitnya selalu kunikmati setelah kamu pergi. 
Aku hanyalah orang yang bukan siapa-siapamu yang lancang mendoakanmu agar kamu selalu bahagia dan baik-baik saja.
Jangan lupa untuk selalu berdoa dan tersenyum seberat apapun hari-harimu. Senyummu adalah pertanda bahwa kamu menikmati pahit dan manis kehidupan di mana pun kamu berada, dan doa adalah pengharapan yang takkan putus untuk bahagiamu di hari esok, hanya itu pesanku.
Ini aku, seorang yang sedang  mengikhlaskanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…