Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Tentang Aku Terhadapmu

Sebut saja aku egois, karena tidak ingin dicintai siapa-siapa selain diriku sendiri dan Tuhan. Sebut saja aku tolol, karena selalu tak percaya dengan buaian manis para pemain cinta. Sebut saja aku kikir, karena tak mau memberi dan membuka hati untuk mereka yang mengecewakan. Sebut saja aku pecundang, karena selalu takut jika hilang ditelan perpisahan.

Pada Paragraf yang Begitu Singkat

Pada paragraf yang begitu singkat kau sempat menulis bekas luka. Di sana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. Pada akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata selalu lemah untuk patuh terhadap air mata. Tak ada jeda untuk kau tinggal di sini. Biarkan aku membiarkanmu pergi.

Jomblo atau Asik Sendiri?

“Hidup ini penuh berkah, jangan dirusak dengan keluh kesah”. Jika lelah menunggu ikhlaskan, karena ikhlas itu bukan demi orang lain tapi demi melindungi diri sendiri dan kebaikan sendiri.  Jika pegal diabaikan  menyerahlah, bukan karena berhenti mencinta, tapi karena terlalu berharap hanya membuat dirimu kian terluka.

Secangkir Kopi Hitam

Adakah yang lebih pahit dari rasa kopi hitam? “Ini mbak, silahkan dinikmati kopinya,” ucap seorang barista yang menaruh secangkir kopi hitam pesananku ke meja berwarna hitam tempat kedua tanganku direbahkan sambil tersenyum ramah ke arahku.

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

Let Her Go !

“Only know you lover when you let her go .” Sepenggal kalimat dari lirik lagu Passenger – Let Her Go, itu terus terngiang-ngiang di telinga dan pikiran Nelsa beberapa hari ini. Secangkir kopi Aceh gayo yang dipesan sepuluh menit yang lalu dengan harapan dapat menyingkirkan penat di dalam kepalanya ternyata tidak dapat berbuat banyak selain hanya menyuguhkan rasa pahitnya. Nelsa dengan sengaja menikmatinya tanpa menaburkan gula supaya rasa kecewa yang   ia rasakan semakin pahit dan kentara.