Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Ada yang Bilang Cinta?

Ada yang bilang, cinta itu rendah hati, tetapi ia suka pongah. Ada yang bilang, cinta itu membahagiakan, kata siapa? Kutemui di koran ada wanita yang ingin bunuh diri ketika kekasihnya menghilang setelah ia hamil tiga bulan, dan ada seorang pria yang meminum kopi campur autan karena ia ingin hilang ingatan.

Tanpa Judul

Bagiku melawan diri sendiri memang melelahkan, apalagi selalu tertuju pada seseorang.   Memang ada hal lain yang membuat kepalamu pusing selain karena prasangka? Yang selalu membuatmu menerka-nerka esok hari akan seperti apa? Yang membuat otakmu lelah untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu, hilangkan egomu itu.   Tak usah memikirkan esok akan seperti apa, cukup jalani dengan senyum dan selalu berdoa. Bukankah hidup itu penuh dengan misteri.

Gadis Hujan

Di luar hujan.. Mungkin saat ini kau sedang merebahkan tubuh di tempat tidur sembari meneguk pelan teh, kopi, atau cokelat panas. Mungkin saat ini kau sedang menahan diri untuk tidak berlari keluar rumah, sehingga kau hanya bisa memperhatikan bulir-bulir hujan yang jatuh dan tak pernah bisa kau hitung satu per satu meskipun dalam pikiranmu, kau ingin sekali mengetahui jumlahnya agar rasa penasaranmu selama ini terjawab. Atau mungkin saat ini kau sedang tersenyum menatap layar ponselmu seraya merasakan debar jantungmu tengah berbalas pesan dengan orang yang kau cintai, yang tentunya bukan aku.

Memendam

Aku sedang menulis ini sambil sesekali melempar pandanganku memperhatikan ponsel disebah kiriku. Entah mengapa aku memperhatikannya. Nada pesan dari seseorang sedikit menggangu tapi entah hatiku tak terganggu.

Bagaimana jika..

“Bagaimana jika kau mencintanya, namun kau ragu dengan dirimu sendiri?” “Bagaimana jika kau mencintainya, namun kau takut cintamu diabaikan?” “Bagaimana jika kau mencintainya, namun kau berpikir nantinya hanya akan berakhir sia-sia?”

Apabila Esok

Sejujurnya, aku sedang cemas memikirkan esok hari kita akan seperti apa. Sebab begitu banyak kemungkinan dari ketidakmungkinan yang ada, serta ada satu hal yang mengganjal batinku tetapi enggan kutanyakan kepadamu, yaitu jawaban sebuah kalimat.

Kepada Tuan Penunggu

Aku tak pernah bosan berkaca di matamu. Meski kadang buram, ia selalu membuka pintu. Suatu kali, mataku tak berhenti bergerak membaca gerakmu dan aku tak menemukan apa-apa. Seharusnya aku menunduk. Kau telah sampai di dada. Bisa jadi telingamu bosan dengar bising dadaku. Tak ada yang perlu engkau simak. Duduk saja. Maka, tak akan lagi sesak.

Seorang Pelupa

Seorang pelupa adalah pengingat yang baik. Seorang pelupa selalu mengingat siapa satu-satunya orang yang dia cintai dan mencintai dia, walaupun dia adalah seorang pelupa. Dia selalu ingat menyebut namamu dalam pikirannya sesibuk apapun hingga dia lupa kesibukannya. Setiap kali dia sendirian dan dia lupa bahwa dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Setiap kali dia menikmati secangkir kopi dan dia lupa menambahkan gula. Setiap kali dia sedang menulis sesuatu yang dia lupa. Setiap kali dia merebahkan kepalanya di atas bantal yang dia lupa diletakkan di mana, sesaat sebelum dia memutuskan membaca doa tidur, dan tidak lupa, dia ingin memimpikanmu.

5 Tahap Patah Hati ?

Di umur gue yang sekarang yang baru menginjak anak baru gede, kalo diingat-ingat terakhir kali gue patah hati itu kira-kira ya empat windu yang lalu. Dan itu terakhir kalinya gue patah hati yang sangat.. Ah kau tahu kan rasanya ditinggal tanpa alasan dan gimana rasanya lo tahu dia panggil sayang ke wanita lain bahkan foto bersama. Terus beberapa windu kemudian dia sok perhatian dan tiba-tiba minta balik.  Maaf nikmati saja penyesalanmu. Untuk kali ini rasanya gue kapok sama yang namanya cinta bahkan takut buat buka hati,  bukannya gue gagal move on tapi trauma . Dan gue pikir-pikir pertanyaan temen gue ada benernya  "Mau sampe kapan hatimu kosong tak berisi mun?" .  "Sampai seseorang bisa membuat gue jatuh cinta" jawab gue dengan nada datar. Oke, curhat kan tuh jadinya.

Love to me ?

Aku si skeptis yang (belum) percaya cinta dapat hadir di antara dua hati yang baru mengenal. Untukku, mencintai tak harus diawali oleh melisankan “aku sayang kamu” . Sebab, bukannya itu ketergesa-gesaan? Atau hanya deretan kata rayuan?

Yang Terbaik :)

Segelas  mocca green tea panas baru saja kuseruput pelan penuh penghayatan, dengan harapan kepenatan di dalam kepalaku luruh dan reda. Kemudian aku mencicipi potato stik yang kupesan 5 menit lalu, aku menikmati setiap gigitannya dengan penuh penghayatan dan satu hela napas panjang. Kali ini aku tidak memesan makanan terlebih dahulu sembari menunggu sahabatku yang datang bersama kekasihnya.

Tentang Pengganti

Sesuatu yang telah berakhir, seharusnya memanglah berakhir. Tanpa ada satu hal pun yang masih tertinggal atau berbekas. Dan setelah itu kita memulai lembaran baru. Tetapi sayangnya tidak sesederhana itu, setiap manusia memiliki ingatan yang menyimpan kenangan, membuat manusia itu sendiri menjadi pengingat yang baik perihal momen yang pernah dilewati bersama.

! Ada Kata yang Hilang

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Penulisnya sedang ambil cuti dengan alasan tak pasti; tak ada lagi irama kesedihan yang bergelayut pada nada tiap aksaranya. Jejak-jejak retakan lukanya yang dulu berteriak lantang telah sembuh dari peluh yang tumbuh, dari ujung kuku kaki hingga ujung rambut kepala yang berkali-kali rubuh.

Kapan kau akan jatuh cinta?

Kapan kau akan jatuh cinta? Ketika kau ingin menabur gula pada cangkir kopimu yang penuh duka. Menikmatinya bersama foto mantan kekasih yang memilih berdansa dengan seorang pengoda ketimbang denganmu yang masih berkutat dengan janji setianya (haha wes ora onok setia-setia'an seng onok mah selingkuh tiada akhir).

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Celebrating Loss :')

Malam semakin hingar dengan suara kesunyian. Bunyi kaki jangkrik yang bergesek bersatu padu dengan keheningan. Wajah kusam, rambut berantakan, mata yang melotot bak burung hantu yang lelah terjaga, serta udara dingin yang lebih tajam dari pisau pembelah daging seakan belum cukup menujukkan ketersiksaan pikiran yang kalut.

Tentang Suatu Malam

Saat malam masih rendah, aku bersembunyi dari lomba lari yang diselenggarakan debar jantung. Sebab, aku ingin menceritakan sebuah hal tentang kamu dan rasa-rasa yang menjadi frasa atas ketegangan tiap nadi yang berdenyut untuk cahaya senyummu.

To Someone

Apakah makna dari jarak yang membentang, jika dua hati yang sering bersama dan mengenggem namun suatu hari mereka tak saling menggenggam dan berjauhan – tidak (lagi) saling cinta tepatnya. Aku sedang menulis ini sambil sesekali melempar pandanganku memperhatikan suasana kafe yang biasa menjadi tempatku menulis. Suasananya cukup ramai karena saat ini adalah malam Minggu. Beberapa muda-mudi yang datang kebanyakan bersama pasangannya.

Maybe Someday

Terkadang aku ingin berdoa seraya menangis kencang dalam kebisuan pada malam-malam lalu. Memperlihatkan kelemahanku pada Tuhan bahwa tidak semua perempuan dapat menahan kerinduan nya. Entah kapan kita pernah berjanji untuk bertemu, setelah sekian lama aku menabung pundi-pundi rindu yang kusimpan di dalam dadaku yang kian meringkih akibat harapanku sendiri dari waktu ke waktu.

Sajak Senja

Entahlah, Kukira ini senja untuk kesekian, dan untuk kesekian aku menikmati sendiri dengan secangkir teh. Mungkin kau juga sedang menikmati senja dikota yang berbeda, meneguk nikmat teh dengan potongan biskuit. Atas nama senja, kuserahkan rindu ini untuk disampaiakn pada rembulan lewat matahari yang akan tenggelam, kuharap detak rinduku bersama senja sampai dalam hatimu yang jauh ditempat berbeda :')

Entahlah

Ini bukan tentang siapa pria yang lebih tampan atau mapan. Tapi tentang pria yang bisa membuatmu merasa aman dan nyaman. Yang akan menggenggam tanganmu saat berjalan bersamanya. Yang menjagamu saat kau bersamanya. Yang menuntunmu saat kau kehilangan pijakan arah.Percayalah, akan ada saat dimana kau memahami, bahwa kau tak memerlukan pria tampan di sisimu. Melainkan pria yang akan membuatmu merasa aman.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…