Sebut saja aku egois, karena tidak
ingin dicintai siapa-siapa selain diriku sendiri dan Tuhan.
Sebut saja aku tolol, karena selalu tak
percaya dengan buaian manis para pemain cinta.
Sebut saja aku kikir, karena tak mau memberi
dan membuka hati untuk mereka yang mengecewakan.
Sebut saja aku pengengkang, sebab aku
teralalu sering berdebat dengan logika akal.
Sebut saja aku munafik, sebab aku
terlalu diam dan ingkar dalam perihal perasaan.
Sebut saja aku pembohong, sebab aku terlalu
lugu menertawai dusta dalam permainan kata baik-baik saja.
Ini, tentang aku terhadapmu, mungkin kau
menyepelekannya. Terserah saja.
Kedua mata ini selalu memperhatikan
gerak-gerikmu bahkan lebih tajam dari guratan waktu.
Kedua telinga ini selalu lebih setia
menjadi pendengar daripada mereka yang seolah menjadi yang peduli atas
keluh kesahmu.
Kedua tangan ini akan mengenggammu lebih erat agar kauaman ketika orang tuamu mulai menanak cemas.
Kedua kaki ini selalu tak segan duduk
bersila di atas sejadah dan melangkah agar tubuhmu tiba dengan selamat
pada tujuanmu.
Dada ini jauh lebih hangat dari
mantel mahal yang bahkan nyalinya terlalu takut tergores udara
dingin.
Satu bibir ini bahkan lebih semangat
dari jarum jam yang melaju menentukan arah takdir yang kapan saja mengancammu,
sebab ia tak kenal lelah merapal doa untuk senyummu.
Dan, air mata ini selalu menjadi wali semua
amin untuk angan dan doa yang kau harapkan terwujud.
***
“Fa jika ada orang yang mencintaimu
tanpa memedulikan kehendak semesta dan dirinya sendiri, kau boleh menyebut
namaku!”
Aku ingin mencintaimu, melewati batas
yang telah ditetapkan waktu.
Tapi...
Mengapa cinta perlahan membuatku ingin mencintaimu,
ketika pada saat yang sama kau juga ingin mencintai seseorang yang bukan aku? Ketika
telah membuka hati, aku pun harus bersiap untuk kehilangan lagi.
Apakah setiap
cinta memang harus selalu ada air mata dan luka hati? Ya tentu, jika kau ingin pelangi kau harus menghadapi
hujan terlebih dahulu.
Komentar
Posting Komentar