Langsung ke konten utama

Tentang Aku Terhadapmu

Sebut saja aku egois, karena tidak ingin dicintai siapa-siapa selain diriku sendiri dan Tuhan.


Sebut saja aku tolol, karena selalu tak percaya dengan buaian manis para pemain cinta.
Sebut saja aku kikir, karena tak mau memberi dan membuka hati untuk mereka yang mengecewakan.
Sebut saja aku pecundang, karena selalu takut jika hilang ditelan perpisahan.
Sebut saja aku pengengkang, sebab aku teralalu sering berdebat dengan logika akal.
Sebut saja aku munafik, sebab aku terlalu diam dan ingkar dalam perihal perasaan.
Sebut saja aku pembohong, sebab aku terlalu lugu menertawai dusta dalam permainan kata baik-baik saja.
Ini, tentang aku terhadapmu, mungkin kau menyepelekannya. Terserah saja.
Kedua mata ini selalu memperhatikan gerak-gerikmu bahkan lebih tajam dari guratan waktu.
Kedua telinga ini selalu lebih setia menjadi pendengar daripada mereka yang seolah menjadi yang peduli atas keluh kesahmu.
Kedua tangan ini akan mengenggammu lebih erat agar kauaman ketika orang tuamu mulai menanak cemas.
Kedua kaki ini selalu tak segan duduk bersila di atas sejadah dan melangkah agar tubuhmu tiba dengan selamat pada tujuanmu.
Dada ini jauh lebih hangat dari mantel mahal yang bahkan nyalinya terlalu takut tergores udara dingin.
Satu bibir ini bahkan lebih semangat dari jarum jam yang melaju menentukan arah takdir yang kapan saja mengancammu, sebab ia tak kenal lelah merapal doa untuk senyummu.
Dan, air mata ini selalu menjadi wali semua amin untuk angan dan doa yang kau harapkan terwujud.
***
“Fa jika ada orang yang mencintaimu tanpa memedulikan kehendak semesta dan dirinya sendiri, kau boleh menyebut namaku!”
Aku ingin mencintaimu, melewati batas yang telah ditetapkan waktu.
Tapi...
Mengapa cinta perlahan membuatku ingin mencintaimu, ketika pada saat yang sama kau juga ingin mencintai seseorang yang bukan aku? Ketika telah membuka hati, aku pun harus bersiap untuk kehilangan lagi.  
Apakah setiap cinta memang harus selalu ada air mata dan luka hati? Ya tentu,  jika kau ingin pelangi kau harus menghadapi hujan terlebih dahulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…