Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi.
Saat aku menulis ini jam dinding
menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi
mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan
terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.
Apa kau tau sebuah rahasia semesta?
Mungkin kau tak pernah terpikir oleh hal ini, Ketika kau mencari seseorang
seperti yang kau pikirkan, seperti keinginan atau khayalanmu. Dan itu membuatmu
lelah, membuatmu tertatih, membuatmu memetakan perasaanmu sendiri pada setiap
orang yang kau temui, membuatmu merasa kedua kakimu telah berjalan sangat jauh,
namun kau tak menemukan apapun selain kosong setiap kali kau ingin mencintai
seseorang.
Jatuh
cinta itu perihal kepercayaanmu mengikuti hati, bukan ekspetasi.
Aku percaya saat jatuh cinta, kita akan
merasakan perasaan yang aneh, perasaan yang asing, namun terasa menyenangkan.
Setiap kali kau menatap matanya, binar matamu terang seperti mentari pagi yang
ranum menyinari bumi. Jantungmu akan berdebar seperti berpuluh-puluh kuda
yang berlari dalam lintasan pacuan. Dan hatimu akan mengirim sinyal pada otakmu
tentang sebuah rasa hangat yang mengalir, dan pikiranmu -meskipun dengan segala
cara- takkan bisa menepisnya.
Cinta
itu ketika kau tak punya alasan untuk menyangkal, menolak, dan membohongi diri
sendiri bahwa kau memikirkannya.
Kau takkan bisa menyangkan pernyataanku
barusan, akui saja. Dan aku? Aku tak mempunyai alasan lain untuk menepis
pernyataanku. Cinta itu absolut, seperti sesuatu yang diberikan Tuhan dan kau
tak mempunyai alasan menolaknya, selain menikmatinya. Namun yang jadi
permasalahannya adalah apakah kau menikmatinya berdua atau sendiri? Karena tak
semua cinta itu berbalas, seperti halnya memberi, tak semua orang ingin
menerima.
Sejujurnya, aku sudah lelah mencari
jawaban perihal kalimat tanya pertama pada paragraf kedua. Kini aku berhenti
dan mengistirahatkan hati, dia sudah lelah dengan keinginan tuannya. Kurasa,
sudah saat kita berhenti dan istirahat sejenak.
Sebaiknya
jangan terlalu lama fokus menatap ke depan untuk mencari, kadang kau akan
menemukannya di belakang atau di sampingmu.
Aku menganalogikan ‘mencari seseorang
yang membuatmu jatuh cinta’ seperti halnya kita mencari sesuatu yang hilang.
Mencari serpihan atau bagian yang hilang pada hati, agar terlengkapi. Ketika
kau merasa sudah terlalu jauh melangkah ke depan untuk mencari sesuatu yang
hilang dan kau tak menemukannya, bukankah sebaiknya kau berhenti sejenak dan
melihat ke belakang atau ke sampingmu? Mencari di sekitar situ dengan jeli, dan
mungkin kau akan menemukannya.
Yang tidak kau sadari adalah, kau
mencari dengan kedua matamu, namun tidak dengan satu hatimu. Kita bisa saja
keliru jika kau mencari bagian yang hilang dengan mata, bukan dengan hati.
Seharusnya kita terpejam, merasakan suara hati atau mengikuti arah ke mana
debar jantungmu hinggap. Biarkan kedua kakimu dituntun oleh keduanya. Jatuh
cinta sebaiknya begitu. Mendengarkan kata hati tanpa alasan, bukan ekspetasi
dari pikiran.
Jika sudah namun kau tak menemukannya,
mungkin memang belum saatnya. Sesuatu yang hilang tidak selalu dapat kau
temukan lagi, terkadang kau harus mencari sesuatu yang baru untuk hatimu,
tentunya dengan cara yang telah kujelaskan sebelumnya.
Hati
seperti arus sungai, dan kau seperti sebuah benda yang mengapung di atasnya.
Kau (seharusnya) akan mengikuti arusnya hingga kau sampai di muara, tempat kau
berhenti.
Aku percaya, ketika kita jatuh
cinta pada seseorang tanpa alasan, itulah jatuh cinta yang sebenarnya
Komentar
Posting Komentar