Langsung ke konten utama

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi.

Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.
Apa kau tau sebuah rahasia semesta? Mungkin kau tak pernah terpikir oleh hal ini, Ketika kau mencari seseorang seperti yang kau pikirkan, seperti keinginan atau khayalanmu. Dan itu membuatmu lelah, membuatmu tertatih, membuatmu memetakan perasaanmu sendiri pada setiap orang yang kau temui, membuatmu merasa kedua kakimu telah berjalan sangat jauh, namun kau tak menemukan apapun selain kosong setiap kali kau ingin mencintai seseorang.
Jatuh cinta itu perihal kepercayaanmu mengikuti hati, bukan ekspetasi.
Aku percaya saat jatuh cinta, kita akan merasakan perasaan yang aneh, perasaan yang asing, namun terasa menyenangkan. Setiap kali kau menatap matanya, binar matamu terang seperti mentari pagi yang ranum menyinari bumi. Jantungmu akan berdebar seperti berpuluh-puluh kuda yang berlari dalam lintasan pacuan. Dan hatimu akan mengirim sinyal pada otakmu tentang sebuah rasa hangat yang mengalir, dan pikiranmu -meskipun dengan segala cara- takkan bisa menepisnya.
Cinta itu ketika kau tak punya alasan untuk menyangkal, menolak, dan membohongi diri sendiri bahwa kau memikirkannya.
Kau takkan bisa menyangkan pernyataanku barusan, akui saja. Dan aku? Aku tak mempunyai alasan lain untuk menepis pernyataanku. Cinta itu absolut, seperti sesuatu yang diberikan Tuhan dan kau tak mempunyai alasan menolaknya, selain menikmatinya. Namun yang jadi permasalahannya adalah apakah kau menikmatinya berdua atau sendiri? Karena tak semua cinta itu berbalas, seperti halnya memberi, tak semua orang ingin menerima.
Sejujurnya, aku sudah lelah mencari jawaban perihal kalimat tanya pertama pada paragraf kedua. Kini aku berhenti dan mengistirahatkan hati, dia sudah lelah dengan keinginan tuannya. Kurasa, sudah saat kita berhenti dan istirahat sejenak.
Sebaiknya jangan terlalu lama fokus menatap ke depan untuk mencari, kadang kau akan menemukannya di belakang atau di sampingmu.
Aku menganalogikan ‘mencari seseorang yang membuatmu jatuh cinta’ seperti halnya kita mencari sesuatu yang hilang. Mencari serpihan atau bagian yang hilang pada hati, agar terlengkapi. Ketika kau merasa sudah terlalu jauh melangkah ke depan untuk mencari sesuatu yang hilang dan kau tak menemukannya, bukankah sebaiknya kau berhenti sejenak dan melihat ke belakang atau ke sampingmu? Mencari di sekitar situ dengan jeli, dan mungkin kau akan menemukannya.
Yang tidak kau sadari adalah, kau mencari dengan kedua matamu, namun tidak dengan satu hatimu. Kita bisa saja keliru jika kau mencari bagian yang hilang dengan mata, bukan dengan hati. Seharusnya kita terpejam, merasakan suara hati atau mengikuti arah ke mana debar jantungmu hinggap. Biarkan kedua kakimu dituntun oleh keduanya. Jatuh cinta sebaiknya begitu. Mendengarkan kata hati tanpa alasan, bukan ekspetasi dari pikiran.
Jika sudah namun kau tak menemukannya, mungkin memang belum saatnya. Sesuatu yang hilang tidak selalu dapat kau temukan lagi, terkadang kau harus mencari sesuatu yang baru untuk hatimu, tentunya dengan cara yang telah kujelaskan sebelumnya.
Hati seperti arus sungai, dan kau seperti sebuah benda yang mengapung di atasnya. Kau (seharusnya) akan mengikuti arusnya hingga kau sampai di muara, tempat kau berhenti.
Aku percaya, ketika kita jatuh cinta pada seseorang tanpa alasan, itulah jatuh cinta yang sebenarnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…