Langsung ke konten utama

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan?


Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.
Aku rasa kau sudah tahu, malam ini adalah Sabtu malam. Malam di mana orang berkumpul bersama keluarga, kerabat, orang-orang tersayang, atau dengan kesendirian. Aku? Aku sedang berkumpul bersama pilihan terakhir yang kusebutkan barusan. Tolong jangan tanyakan alasannya kenapa.
Aku sedang menunggu pesananku datang; segelas teh tarik hangat dan roti bakar. Sambil menunggu pesananku disediakan, aku menyalakan laptop untuk menulis cerita ini, dan mematikan telepon genggamku, sekedar memastikan konsentrasiku tidak terganggu oleh broadcast bbm yang masuk untuk menyelesaikan tulisan ini. Lagi pula tidak ada yang penting dan mungkin aku merasa kehilangan sesuatu yang penting.
Aku mengerutkan kening, koneksi wifi kedai ini ada masalah sepertinya. Aku mengutak-atik setting-anwifi laptopku. Sekitar sepuluh menit aku sibuk mengecek koneksinya dan, benar saja, ada masalah. Lalu, kuputuskan untuk menghampiri kasir untuk bertanya mengenai hal ini.

“Mas, kok wifi-nya nggak bisa, ya?” tanyaku pada kasir yang sedang memperhatikan sinetron yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Sekilas, aku melihat televisi itu bermerk LG dan berukuran sekitar 31 inci, televisi itu terpasang di permukaan dinding kedai yang bercat kuning tua. Sepertinya perhatian kasir itu hanyut pada adegan sinetron yang ditayangkan oleh televisi tersebut
“Mas? Halo? Wifi-nya nggak bisa, ya?” Aku mengulangi pertanyaanku sambil memiringkan kepala ke ke kiri.
Kasir itu sedikit kaget. “Bisa kok, mbak. Coba aja dikonekin lagi,” jawabnya ketus tanpa menolehkan pandangannya ke arahku. Kasir itu tampak kesal karena pertanyaanku barusan. Aku sedikit jengkel mendengar jawabannya. Tapi aku memakluminya, mungkin dia merasa bosan karena malam ini adalah Sabtu malam. Harusnya dia dan para pegawai lain menikmati malam ini di rumah atau di jalan bersama keluarga atau orang tersayangnya, bukan di tempat kerja. Tetapi, ya, demi uang untuk menyokong kehidupan. Aku mengerti akan hal itu.
Baru saja aku kembali ke tempat dudukku dan melanjutkan tulisan ini, tiba-tiba kasir yang kutanyakan barusan menghampiriku.
“Maaf mbak, ternyata koneksi wifi-nya lagi gangguan dari servernya,” ucap kasir itu dengan nada ramah, sangat berbeda sekali dengan nada bicara sebelumnya.
“Oh pantesan, yaudah nggak apa-apa. Makasih ya, mas,” balasku datar.
“Iya, kalo ada yang mau ditanyain lagi tanya ke saya aja ya. Maaf tadi saya lagi asik ngeliatin televisi, jadi jutek jawabnya,” kata kasir itu mengakui kesalahannya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi perkataannya.
Setelah kasir itu kembali ke mejanya, aku tenggelam pada layar putih untuk memikirkan apa yang harus kutulis selanjutnya. Tidak sadar, sudah satu jam terlewati. Sudah pukul setengah delapan malam. Aku mengalihkan pandanganku dari layar laptop ke keadaan sekitar. Tinggal tiga orang pengunjung yang tersisa. Di samping kiriku, ada seorang pria berjaket hitam  sedang menyeruput pelan segelas susu dingin dengan posisi duduk mengangkat kaki kananya ke bangku dan menatap layar laptop. Aku menatap pria itu dengan tatapan lucu. Bisa-bisanya dia duduk seperti duduk di warung tegal. Di arah depan mejaku, ada sepasang kekasih yang sedang berpacaran. Mereka berdua sedang sibuk ber-selfie ria dengan tablet yang mereka mainkan. Si lelaki tampak memainkan jari telunjuk kanannya di layar tablet, sedangkan si perempuannya memperhatikan layar dengan tatapan serius. Gaya pose mereka lucu, dan sesekali mereka tertawa bersama. Aku tersenyum getir. Rasanya ingin kuusir mereka berdua, tapi aku mengurungkan niatku karena sepertinya mereka sedang menikmati keadaan.
Dan aku, aku selalu menyukai melihat orang-orang yang disayang, jatuh cinta lebih tepatnya. Seperti yang kulihat dihadapanku saat ini. Aku sendiri sedang menikmati teh tarik yang baru saja diantar oleh salah satu pelayan kedai kopi ini. Suasana di kedai ini syahdu dengan sedikit alunan musik melow yang diputar oleh seorang barista. Tapi aku menyumpal kedua telingaku dengan headset yang sudah kucolok ke laptop, lalu memutar beberapa playlist lagu yang biasa kudengarkan di kamar.
Kemudian, lagu All Time Low – Remembering Sunday mengalun sendu telingaku.
Forgive me, I’m trying to find
My calling, I’m calling at night
I don’t mean to be a bother, but have you seen this girl?
She’s been running through my dreams
And it’s driving me crazy, it seems
Alexander Gaskarth –vokalis All Time Low- sedang mennyanyikan bagian lirik lagu di atas. Pikiranku menerawang pada nama seorang pria yang sedang rajin-rajinnya menghinggapi kepalaku akhir-akhir ini. Entah, sepertinya lebih baik tidak kubeberkan namanya di sini. Yang jelas, aku merindukannya dan aku tidak tahu kenapa aku merindukannya.
Mengapa? Aneh ya? Menurutku tidak. Jika kau bertanya alasannya, baiklah, aku akan memulai ceritanya dari sini…
Tiga hari lalu..
Saat itu pukul empat sore, aku sudah menyelesaikan beberapa artikel yang diberikan editor dari website. Aku bergegas pergi ke dapur untuk menyeduh teh untuk sejenak membuat rileks pikiran. Aku hanya membutuhkan waktu sepuluh detik untuk melangkahkan kaki dari kamarku ke dapur. Setelah membuat teh, aku berbalik ke kamar dan duduk bersila di atas kursi busa berwarna hitam dan menatap nanar laptop di atas meja belajarku. Perhatianku kini terfokus pada linimasa twitter.
Jujur saja, aku sedang melihat linimasa seseorang – pria yang tak kusebutkan namanya itu­­­ dengan cermat. Keningku mengerut. Nihil. Pria itu belum pernah nge-tweet bulan ini, ya kurasa dia tidak pernah bermain twitter. Dan, last seen WhatsApp-nya pun sudah lima jam lalu tidak menunjukkan aktivitas. Terkadang aku juga sering-sering mengintip kegiatannya sehar-hari lewat Path. Aku menunggu kabar darinya dan aku mulai merasa tidak tenang. Sebenarnya, dia bukan siapa-siapa, dan aku pun bukan siapa-siapanya pria itu. Hanya saja aku merasa nyaman setiap kali berbincang-bincang mengenai keseharian kami. Mulai dari bangun dari tidur hingga ingin tidur lagi. Aku merasa senang diperhatikan olehnya, meski dalam hal-hal remeh. Sudah lama aku tidak merasakan senangnya bertukar kabar secara intensif dengan seorang pria yang kusuka. Ups…yasudahlah, sudah terlanjur kuakui.

Ya, aku menyukai pria itu mungkin aku sayang – meskipun kami jarang bertemu. Baiklah, kau pasti akan bertanya mengapa kami jarang bertemu kan? Jelas, jarak dari rumahku ke rumahnya sudah berbeda. Maaf sekali lagi, aku tak ingin menyebut nama kotanya, kurasa biar beberapa teman dekatku saja yang tahu kota tempat pria itu tinggal.
Bagaimana rasanya, oh ralat, maksudnya, pernahkah kau merindukan seseorang yang jarang kau temui sebelumnya? Jika kau bertanya padaku rasanya? Akan kujawab singkat saja. Gelisah.
Kami berkenalan seperti halnya orang-orang yang berkenalan di dunia maya, sepertinya tak usah kujelaskan perinciannya bagaimana, ya.
Pria itu berambut hitam pekat, berhidung mancung, dan berpipi tirus. Matanya bulat, kulitnya putih langsat dan tingginya kira-kira 170cm. Yang aku sukai dari dirinya sudah pasti senyum dan tawanya. Ya, kuakui aku lemah pada pria yang tersenyum manis. Tapi, tidak semua pria mempunyai senyum yang manis. Begitulah. Terserah kau menyetujui atau tidak, itu bukan masalah bagiku.
Sebenarnya aku sudah mengenal lebih dekat dengan dirinya, lebih dekat. Tapi kedekatan itu terjadi tiga bulan lalu. Hanya saja komunikasi kami akhir ini berkurang bahkan tidak berkomunikasi sama sekali. Aku hendak ingin menanyakan kabarnya tapi aku takut menganggu aktifitasnya dan aku takut dia tidak membalas chatku. Kurasa dia menjauhiku akhir ini, entah karena alasan apa aku tidak tau. Mungkin dia sibuk dengan dunianya, mungkin aku juga tidak penting baginya, atau mungkin dia bosan atau mungkin dia menemukan yang lebih baik dariku. Aku hanya ingin tau kenapa sikapnya berubah denganku. Hanya itu saja.
Aku ingin sekali menemui dirinya. Menikmati senyumnya dan menatap dalam-dalam matanya. Dan menanyakan kenapa dia berubah. Oke, kurasa ini terbaca terlalu berlebihan. Ya, singkatnya aku ingin bertemu dan mengobrol langsung dengannya. Hanya saja jarak yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Mungkin jika jarak kami tidak terlalu jauh, aku pasti mengajaknya bertemu. Tapi sayangnya, sekali lagi, aku gengsi mengajaknya dan jarak selalu menjadi penghalang setiap orang yang ingin memperjuangkan rasa. 
Ada satu hal yang kukhawatirkan di antara jarak yang membentang jauh, yaitu, kami pun menjadi jauh seperti yang mulai terjadi saat ini. Meski ini baru kekhawatiranku saja.
Dan, ya…, sampai teh tarikku kini tinggal tersisa setengah dan roti bakarku tinggal sepotong. Dan pengunjung kedai ini mulai meramai lagi seiring jalan yang mulai dipadati oleh orang-orang yang menikmati Sabtu malam. Aku masih memikirkan pria itu.
He’s been running through my dreams
And it’s driving me crazy, it seems
I’m gonna ask her to........
Aku ingin bertemu dengannya.
Dan, ada beberapa pertanyaan yang berkelebat di selasar-selasar pikiranku.
Sedang apa dia di sana? Apakah dia sedang tertawa? Atau bersedih? Atau dia sedang berkumpul dengan temannya? Atau sahabatnya? Atau dengan seseorang yang sedang dekatnya? Atau…, dengan kekasinya?
Entahlah, tak usah terlalu memikirkan pertanyaanku, aku hanya bertanya pada diriku sendiri, dan semoga jawabannya bukan berasal dari dua pertanyaan terakhir.
Semoga pria itu selalu ingat pesanku untuk selalu tersenyum meskipun tidak kuingatkan. Semoga semesta mengizinkan aku bertemu dengannya di suatu hari. Dan, semoga dia merindukanku juga.
Ah, aku benar-benar terlalu berlebihan sepertinya.
Oh iya, selamat merayakan sabtu malam. Tertawalah! Nikmati kebahagiaan malam ini dengan senyum yang paling lebar. Jangan lupa, bersyukur dan ucapkan banyak amin untuk setiap doa dan pengharapan yang kau ucap untuk esok hari.
Kau, ya, kau, pria itu. Jika kau membaca tulisan ini, jangan marah, ya. :p

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…