Langsung ke konten utama

! Terpilih

Seruput kopi putih terakhirku sore itu. Entah mengapa, saat itu aku lebih memilihi kopi dibandingkan teh mungkin mataku mulai terkantuk-kantuk karena berjam-jam membaca deretan aksara indah kitab suci Al-Qur’an. Seharusnya aku tidak mengeluh dan mengambil air wudhu. Terlebih, aku istirahat sejenak sambil mengunyah camilan-camilan yang biasanya kuhindari. Di luar kebiasaanku. Klasik, aku mencoba gaya hidup sehat dan semakin hari tubuhku seakan menolak camilan terebut. Namun, tidak pada hari itu. Dan lagi sore yang biasanya ramai dengan celoteh kawan, menjadi hening.


***

Di ruang waktu, aku duduk bersama seorang wanita bermata sejuk. Dia adalah figur yang kukenal sebagai orang yang aku harus sangat hati-hati berbicara dengannya. Dia pemendam dan kuharap bukan menjadi dendam. Dia bukan salah satu di antara banyak pusat perhatian orang kebanyakan.

“Kamu tahu tidak, ketika ada seseorang yang membuatmu deg-degan tapi kamu merasa seakan biasa saja,” ucapnya.

Tiba- tiba  dia membuka obrolan. Aku tersentak kaget. Tak kusangka dia menanyakan hal seperti itu padaku. Baru saja aku ingin menjawab, ada sebuah panggilan untuknya yang tidak bisa ditunda.

“Sebentar ya, ada yang harus kulakukan. Selesainya kamu menjawab pertanyaanku” ucapnya.

Baiklah, pikirku. Tak harus menunggu lama dia kembali.

“Untuk pertanyaanmu itu, aku tahu kamu sedang merasakan itu. Hanya saja kamu takut terjebak keadaan atau memang rasa ketertarikan,” aku melanjutkan obrolan.

Dia terdiam beberapa saat.

“Ada kalanya kita merasa tertarik pada seseorang ketika melihatnya. Suka untuk bertegur sapa dengannya. Lalu secara naluriah ketika kita bertemu dengannya lagi kita merasa semakin tertarik. Belum lagi ada saja hal-hal yang berkaitan dengannya membuat kita mengingat dan mengingat lagi,” lanjutku.

“Lho, kamu tahu dari mana jika aku hanya sekilas melihatnya?” tanyanya.

“Aku bahkan tidak berkata bahwa kamu sekilas melihatnya. Aku hanya bilang kamu melihatnya. Kalau begini jelas, bahwa kamu diam-diam memperhatikannya,” aku menjawab sambil tertawa ringan.

Dia menelan ludah. Matanya yang tadi tidak fokus melihat ke arah mana, beranjak untuk memperhatikan wajahku dengan raut yang begitu serius.

“Dia  biasa saja secara tidak sengaja ketika kamu melihatnya setiap hari. Teruslah bermain dengan kepura-puraan bahwa kamu tidak melihatnya. Padahal hanya dengan sudut matamu, kamu tahu mengenakan kemeja yang berbeda, jam tangan baru, gaya rambut yang berubah, dan hal-hal detail lainnya dari dia. Selama kamu menikamati itu, tidak perlu merasa bodoh. Kamu tidak perlu berhati-hati menggantungkan harapan. Kalau kamu memang berniat ada sesuatu, mulailah. Jangan berharap keajaiban akan mengubah rasa geermu menjadi nyata,” aku menyudahi jawabanku.

Lagi-lagi dia terdiam dan menatap wajahku lekat-lekat dengan sorot matanya yang tajam.

“ Kamu bisa mengerti sebegitunya. Terima kasih untuk perbincangan ini,” dia menajwab dengan nada rendah.

“Sama-sama, lanjutkan harimu dengannya atau tanpanya,”

“Eh, tapi jangan bilang siapa-saipa! Ini hanya diantara kita berdua,” serunya.

Aku mengembangakn senyum begitupun dia. Kita saling melempar pandang lalu tersenyum lagi. Dalam hatiku, aku merasa terpilih. Terpilih untuk mendengarkan ceritanya yang mungkin tidak bisa ia ungakapkan pada orang lain. Cerita seorang intorvert yang terkesan lugu dan kekanakan. Terkadang, orang yang kamu pilih mendengarkan ceritamu justru orang yang jarang komunikasi denganmu. Konyol memang, tapi kerap kali mereka jauh lebih bisa dipercaya dibanding kawanmu sendiri.

Aku berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapa-siapa, tapi aku tak berjani untuk tidak menuliskannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…