Langsung ke konten utama

Me Time?

Mudah lelah padahal pekerjaan tidak seberapa, mudah marah padahal tidak ada sumber pencetus yang signifikan. Acap terdiam karena otak mendadak blank. Nggak tahu mau ngapain, padahal urusan begitu banyak. Atau tiba-tiba molor tanpa mengetahui penyebabnya, pola makan berubah, sulit konsentrasi dari nempel molor menjadi insomnia. Itulah tandanya untuk me time. “Alone, bukan lonely”,  menyendiri bukan kesepian, menikmati beberapa saat untuk berdialog dengan diri sendiri.



Di dalam kata “me time” ada kata “met”, “i”, dan “me”. “I met me”, aku bertemu saya, aku menemui diri sendiri yang kerap kita lupakan karena kita sibuk dengan orang lain. Me time adalah cara adil memperlakukan diri sendiri. Dan me time pun menjadi penting.

“Dalam diam aku bertemu damai..
Dalam sunyi aku bertemu khusyuk..
Dan dalam sendiri aku bersahabat dengan diriku..”

Bila bersama orang lain ibarat berada dalam terang, perlu waktu menyendiri dalam gelap, karena di saat gelaplah kita bisa melihat indahnya kerlip bintang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…