Langsung ke konten utama

Aku Bukan Kamu, Kamu Bukan Aku

Membacalah jika ingin menulis.
Mendengarlah jika ingin berbicara.

Mungkin kamu acap mendengar pepatah seperti itu, akupun begitu. Tapi haruskah kita selalu mendengarkan? Apa-apa yang dikatakan orang lain tentang kita? Haruskah kita selalu menanggapi kata tanpa makna? Haruskah kita menjadi baik di hadapan mereka-mereka yang bahkan tidak membuat kita merasa baik?

Kurasa jawabannya harus.Sebagai pertanda kita kita menghargai mereka yang terkadang tidak menghargai kita. Terutama kebebasan menghargai orang lain. Aku selalu bertanya tentang arti sebuah kebebasan. Dan itu selalu terbentur dengan kebebasan bertanggung jawab.

Apakah aku mengidap paranoia? Yang berkhayal bebas melakukan apa saja. Realitanya, aku bebas melakukan apapun dalam pikiran dan hati milikku sendiri.

Semua bergerak semua berubah. Seiring waktu. Semakin hari semakin modern. Semakin hari semakin dinamis. Dan semua bergerak cepat. Secepat mereka-mereka yang memberimu label pada diri kita. Pasti kamu pernah memberi label seperti itu? Ah.. aku baru saja memberi label padamu. Mudah, cepat.

Suka ataupun tidak suka. Kamu dan aku mendengarnya. Mendengarkan label-label dari mereka. Mendengarkan tawa-tawa yang menguar di ruang waktu.

Kata mereka aku adalah seorang aneh yang konyol dan tidak bisa diajak serius. Selang beberapa waktu, kata mereka aku terlalu serius menghadapi hidup. Kontradiktif. Pertanyaan yang mungkin dikatakan bagi mereka-mereka yang belum mengenal. Tahu dan kenal itu berbeda. Padahal dalam otakku, aku menertawai keseriusan mereka menanggapiku. Betapa konyol mereka di pikiranku.

Aku selalu suka mendengar. Dan kadang malas untuk berbicara, ketika mereka hanya bisa menghakimiku dan pemikiranku. Mereka mendengarkanku seakan perkataanku angin yang lewat diantara obrolan. Padahal aku meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka, yang kerap kali hanya antologi tak berguna.

Aku masih bertanya. Tapi, setidaknya aku menemukan satu jawaban. Bahwa kebebasan adalah kemampuan mengontrol. Mengendalikan diriku sendiri tanpa memegang kendali yang bukan diriku.
Mungkin kau menginterpresikan ini berbeda. Mungkin pun jika sama, percayalah.

Aku bukan kamu, kamu bukan aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…