Langsung ke konten utama

Pada Paragraf yang Begitu Singkat

Pada paragraf yang begitu singkat kau sempat menulis bekas luka. Di sana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. Pada akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata selalu lemah untuk patuh terhadap air mata. Tak ada jeda untuk kau tinggal di sini. Biarkan aku membiarkanmu pergi.


Pada paragraf yang begitu singkat ada ingatan yang berkarat. Di sana, aku dan kau terperangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu. Sedangkan cintamu telah luput di titik terdekat dan langkahku telah lumpuh di tanda tanya jauh. Ada celah untukmu pergi dari sini. Biarkan aku membiarkanmu pergi.

Pada paragraf yang begitu singkat ada luka yang abadi. Disana kau dan aku sudah meninggalkan narasi. Tak ada apa-apa di sana, hanya sebentang tanda tanya yang tidak menginginkan jawaban. Hanya sebuah kecewa yang berakhir dengan tanda titik. Hanya setumpuk huruf luka yang mengingginkan kesembuhan dari sebuah fiksi. Biarkan aku merelakanmu pergi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…