Malam ini aku terbangun dengan rasa rindu yang amat sangat menyesakkan
dada. Rindu kepada caranya yang seakan-akan membuatku selalu merasa istimewa.
Kemudian beberapa pikiran acak menghantamku dan sang isi kepala. Aku ingin
selamanya diperlakukan seperti itu olehnya, merasa istimewa, menjalani hubungan
yang baru seumur jagung ini dengan berlama-lama.
Tapi kemudian pikiran-pikiran yang berasal dari
ketakutan itu datang.
Satu alasan besar mengapa sebuah hubungan tidak bisa
berjalan dengan baik dalam waktu yang lama hingga akhirnya harus berakhir
adalah karena pada satu titik, salah satu dari kedua orang yang
berpasangan itu—atau keduanya—berhenti saling berusaha. Sebelum salah satunya
mendeklarasikan perasaan kepada salah satu lainnya, sebelum ada klaim yang
jelas tentang kepemilikan antara satu sama lain, mereka akan melakukan apapun
untuk membuat orang yang mereka inginkan bahagia. Segalanya.
Mereka akan mengejar, menjadi penggoda handal, menjadi
sangat menarik, menjadi apapun meski itu sesuatu yang bukan dirinya.
Pesan-pesan ucapan selamat pagi ataupun malam secara gencar dikirimkan meski
sang fajar belum membuka mata dan sang rembulan hanya bisa memperhatikan
perilaku para anak cucu adam sambil tertawa.
Kalimat-kalimat picisan dalam ribuan pesan singkat
yang tidak hentinya saling berbalas menjadi hal biasa. Kalimat manis penuh
godaan dan perhatian serta bualan seakan-akan menjadi suatu kewajiban yang
tidak bisa dihentikan setiap harinya. Hal ini hanya semata-mata untuk tetap
menciptakan lengkungan indah yang terukir dari bibir seseorang yang
diinginkannya.
Tapi suatu saat klaim itu berhasil direbut dari sang
idamannya, semua hal tadi seakan-akan perlahan memudar kemudian hilang tanpa
terasa.
Pesan picisan romantis yang tadinya bisa sepanjang
lima halaman terus berkurang kepadatannya menjadi empat, kemudian tiga, tidak
lama menjadi dua, hingga tersisa satu dan hilang menjadi nol selamanya.
Panggilan telepon rutin yang awalnya tidak perlu alasan untuk dilakukan kecuali
mendengar suara sang idaman dan mengobati rindu di dada berubah menjadi ‘tidak
ada yang perlu dibicarakan dengannya’ dan dibiarkan begitu saja.
Semua kata sayang berubah menjadi pertengkaran harian
yang seakan-akan membuat sulit untuk mempercayai kalau kedua orang itu saling
menyayangi tadinya.
Hanya karena sang idaman sudah berada di tangan, bukan
berarti pengejaran juga otomatis dihentikan. Sang idaman tetap sang idaman,
mereka tidak berhak mendapatkan sesuatu yang kurang dari apa yang kamu usahakan
meskipun hati, jiwa, raga, dan pikirannya telah kamu menangkan.
Karena kadang, beberapa hati memang terlalu lemah
untuk bertahan sendirian dan butuh bantuan untuk dipertahankan.
Pertahankan aku ketika aku berusaha pergi darimu. Pertahankan aku ketika bahkan aku tidak berusaha pergi
darimu dan masih tetap mencintaimu. Pertahankan aku jika hatimu masih menyimpanku. Pertahankan aku dan jangan biarkan aku pergi.
Dan nyatanya semua itu hanya bualan.
Tamat.
Dan nyatanya semua itu hanya bualan.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar