Sebuah bibir tersenyum dengan manisnya
pada beberapa foto seseorang yang mungkin dapat kau bayangkan siapa. Foto itu
kusimpan baik, dipeluk sejadah sebelum mataku menyerah dimadu lelah.
Ada luka tentang kekecewaan yang
tertoreh dan merebak di permukaan hati padahal si pembuat belum pernah
menyakiti. Sementara air mata mencari pembenaran sebagai penguji atas harapan yang lelah
mengemis lalu memilih mati bunuh diri. Takdir seolah tak ingin disalahkan atas pertemuan yang pernah terjadi.
Sebuah tragedi.
Debar jantung dua orang ragu,
yang salah satunya mungkin sedang jatuh cinta.
Vice versa, itu yang diharapkan pada setiap doa yang berubah menjadi dosa.
Namun, entah kenapa cinta hadir begitu saja, bahkan Tuhan belum ketok palu.
Vice versa, itu yang diharapkan pada setiap doa yang berubah menjadi dosa.
Namun, entah kenapa cinta hadir begitu saja, bahkan Tuhan belum ketok palu.
Tiadakah pertemuan untuk hatiku dan
hatinya, wahai semesta? Atas segala amin terucap dengan suara yang tak
terdengar namun merobek keheningan.
Atau adakah pilihan lain yang lebih
bijaksana, wahai semesta? Mungkin saja kau berbaik hati mengajukannya pada
Tuhan ketika mempunyai waktu luang.
“Dim, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada" seperti kata Bapak Sapardi Djoko Damono.
Untuk pertemuan yang pernah terjadi dan pikiran yang keguguran
karena sempat melahirkan kenangan; kebersamaan, senyuman, canda, dan tawa.
Pada kata semoga, aku penuh
mempercayakannya agar denyut nadiku tidak kehilangan rima.
Aamiin.
Komentar
Posting Komentar