Langsung ke konten utama

Sebuah Doa Untuk Pertemuan yang Pernah Terjadi

Sebuah bibir tersenyum dengan manisnya pada beberapa foto seseorang yang mungkin dapat kau bayangkan siapa. Foto itu kusimpan baik, dipeluk sejadah sebelum mataku menyerah dimadu lelah.

Ada luka tentang kekecewaan yang tertoreh dan merebak di permukaan hati padahal si pembuat belum pernah menyakiti. Sementara air mata mencari pembenaran sebagai penguji atas harapan yang lelah mengemis lalu memilih mati bunuh diri. Takdir seolah tak ingin disalahkan atas pertemuan yang pernah terjadi.
Sebuah tragedi.
Debar jantung dua orang ragu, yang salah satunya mungkin sedang jatuh cinta.
Vice versa, itu yang diharapkan pada setiap doa yang berubah menjadi dosa.
Namun, entah kenapa cinta hadir begitu saja, bahkan Tuhan belum ketok palu.
Tiadakah pertemuan untuk hatiku dan hatinya, wahai semesta? Atas segala amin terucap dengan suara yang tak terdengar namun merobek keheningan.
Atau adakah pilihan lain yang lebih bijaksana, wahai semesta? Mungkin saja kau berbaik hati mengajukannya pada Tuhan ketika mempunyai waktu luang.
“Dim, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada" seperti kata Bapak Sapardi Djoko Damono.
Untuk pertemuan yang  pernah terjadi dan pikiran yang keguguran karena sempat melahirkan kenangan; kebersamaan, senyuman, canda, dan tawa.
Pada kata semoga, aku penuh mempercayakannya agar denyut nadiku tidak kehilangan rima.
Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…