Langsung ke konten utama

Jomblo atau Asik Sendiri?

“Hidup ini penuh berkah, jangan dirusak dengan keluh kesah”.

Jika lelah menunggu ikhlaskan, karena ikhlas itu bukan demi orang lain tapi demi melindungi diri sendiri dan kebaikan sendiri. Jika pegal diabaikan menyerahlah, bukan karena berhenti mencinta, tapi karena terlalu berharap hanya membuat dirimu kian terluka.

Matahari toh tetap sendiri selama 4,57 milyar tahun dan masih tetap bisa bersinar menyinari dunia; tak pernah menangis. Cuma ingat, hati akan punya naluri terbantahkan untuk mencari pasangannya.

Gelap tak akan bisa membawa kita keluar dari kegelapan; hanya cahaya yang dapat melakukannya. Benci tak dapat membuat kita keluar dari kebencian; hanya cinta yang dapat melakukannya. Demikian juga dengan kesendirian, tak bakal membuat kita keluar dari kesendirian itu. Hanya keiinginan untuk mencinta dan menjadi kita yang dapat melakukannya, kecuali kalau kata cinta itu didefinisikan sebagai, “Yang kau dan aku takkan pernah menjadi”.

Namun walau sendiri, jadilah berguna. Jadilah cahaya, walau tak tersentuh tapi selalu menerangi. Jadilah angin, walau tak berwujud tapi selalu memberi kesejukan. Dan jadilah teman sejati, walau tak bersama menjalani hidup dan menjalani hari tapi selalu ingat dalam doa.

Dan selalu ingat "the eagle flies alone. Elang selalu terbang sendiri"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…