“Only
know you lover when you let her go.”
Sepenggal kalimat dari lirik lagu Passenger – Let Her Go, itu terus
terngiang-ngiang di telinga dan pikiran Nelsa beberapa hari ini. Secangkir kopi
Aceh gayo yang dipesan sepuluh menit yang lalu dengan harapan dapat menyingkirkan
penat di dalam kepalanya ternyata tidak dapat berbuat banyak selain hanya
menyuguhkan rasa pahitnya. Nelsa dengan sengaja menikmatinya tanpa menaburkan
gula supaya rasa kecewa yang
ia rasakan semakin pahit dan kentara.
Aku tidak
hendak menanyakan bagaimana kabarmu. Aku pun sejujurnya tidak sedang
merindukanmu.
Aku hanya
sedang mengenang apa yang pernah terjadi
***
“Hei, sudah menunggu lama? Maaf ya,”
tanya seseorang yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Nelsa dari belakang,
lalu menjatuhkan pantat pada sofa hijau tua di hadapannya. Nelsa sedang
melamun, memperhatikan lalu lalang orang yang berjalan di Mal ini lewat dinding
kaca tembus pandang cafe tempat mereka berjanjian bertemu. Mungkin Nelsa pun
tidak sadar bahwa seseorang yang ia tunggu melintas di hadapannya.
“Lumayan, tapi tak apa. Aku sedang
menunggu, bukan menghitung waktu,” jawaban Nelsa singkat dan datar dengan
posisi kepala menghadap kaca tembus pandang itu.
“Nel…” Perempuan itu memanggil dengan
kepala menunduk, tidak berani menatap mata Nelsa secara langsung. Sejenak,
lewat ekor mata, Nelsa melihat perempuan yang di depannya cantik sekali malam ini dengan dress putih
bermotif polkadot biru.
“Ya?” Nelsa merespon panggilannya masih
dengan posisi yang sama. Ia sebenarnya tidak ingin mengacuhkan kedatangan
perempuan itu, tetapi rasa kecewa mulai mengakar lagi di hatinya bercampur
dengan rasa cinta yang kini terancam akan dia bunuh lagi.
Perempuan itu menggigit bagian bawah bibirnya
melihat Nelsa yang bersikap dingin. “Maafin aku ya. Aku tau pasti kamu
marah kan?”
Nelsa tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Tanpa kamu bertanya pun, kamu sudah tau jawabannya.”
“Tapi kamu maafin aku kan?” tanyanya sekali lagi dengan nada bicara sedikit bergetar. Kini Nelsa memandang wajahnya
dan menemukan ekspresi rasa bersalah di sana. Perempuan itu
menjentik-jentikkan jarinya dan menggoyangkan kedua jenjang kaki. Gadis itu
tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.
Lagi-lagi Nelsa tersenyum mendengar
pertanyaannya, lalu menjawab dengan santai, “Bagian mana yang terdapat aku
tidak memaafkanmu?”
“Nel, aku..–“
“Bagian mana yang terdapat aku tidak
mengalah?” Nelsa dengan segera memotong penyangkalannya.
Seketika perempuan itu menutup wajah
yang mulai memerah dengan kedua tangan. Sungguh, Nelsa benci sekali dengan
keadaan ini.
“Sebentar, aku pesan minuman favoritmu
dulu ya.” Nelsa langsung beranjak dari sofa dan berjalan ke kasir untuk
membawakan Hazelnut
Signature Chocolate. Gadis itu hanya mengangguk
menurut.
Sambil menunggu pesanan tersaji, Nelsa berdiri dan membongkar isi kepala.
Mengatur tiap kata yang harus ia ucapkan. Kepalanya terasa pusing sekali. Lebih
memusingkan ketimbang ia harus menghitung rumus algoritma atau menyelesaikan
delapan puluh soal fisika kuantum. Tidak, ia tidak sedang berpikir bagaimana
cara menyudutkannya atau malah menyakitinya dengan pertanyaan yang begitu
menohok. Memang benar, selama ini ia selalu memahami, memaafkan, dan mengalah untuknya.
Ia tidak memperhitungkannya bahkan hingga detik ini. Ia hanya berusaha menyadarkannya
tentang apa yang telah dia lakukan walau pun dia melakukannya dengan penuh
kesadaran.
Selama ini ia mengikuti keinginannya.
Mulai dari bertukar kabar, menunggunya yang selalu sibuk dengan dunianya hingga
dia menghilang beberapa waktu, sampai menyusun waktu yang singkat hanya untuk
bertemu dengannya. Ia bersabar mengikutinya dengan sedikit harapan dia bisa
menghargai semua itu. Hanya menghargainya. Itu saja cukup bagi Nelsa.
Apakah dia masih ingat saat semesta
mempertemukannya pertama kali di perpustakaan? Kala itu pukul empat sore dan
hujan deras. Seorang perempuan sedang mencari buku untuk referensi
kuliahnya yang mendekati semester akhir untuk segera menyusun skripsi. Nelsa
yang datang keperpustakaan dengan tujuan mencari buku filsafat untuk tugas
kuliahnya langsung saja mengurungkan niat itu ketika tidak sengaja melihat
gadis itu dari arah parkiran.
Nelsa menghampiri dan berdiri di
sampingnya sejenak di depan pintu perpustakaan yang sepi, hanya ada mereka berdua.
Nelsa memperhatikan perempuan yang berdiri disebelahnya basah kuyup dan
menggigil kedinginan dengan terbalut kaos merah dan celana jeans hitam serta sepatu flat.
“Maaf, lo
kayaknya kedinginan. Nih pake aja jaket gue, nanti lo masuk angin.”
“Nggak
usah. Makasih. Bentar lagi juga hujannya reda. Hehehe.”
Perempuan itu tersenyum dan menolak
secara halus karena jelas saat itu Nelsa adalah orang asing yang tiba-tiba datang
menawarkan jaket, tetapi ia sungguh tidak tega melihat wajah perempuan yang memucat dengan tubuh menggigil. Nelsa tidak saja menyerah dengan penolakan
sederhana itu.
“Sudah,
pake aja nih jaket. Gue tau lo kedinginan banget. Nggak usah mikir gue bakal
ngelakuin hal jahat sama lo. Gue cuma nawarin kebaikan yang memang seharusnya
enggak lo tolak. Mending mana, lo ngegunain jaket gue buat sementara, atau lo sakit
berhari-hari? Hehehe.”
Perempuan itu memandangnya sejenak,
seperti menimang-nimang keputusan. Namun akhirnya dia menerima jaket varsity berwarna biru navy dengan tersenyum kikuk,
kemudian menggunakannya.
“Makasih
ya…”
Setelah perempuan itu mengenakan jaket,
tanpa banyak bicara Nelsa langsung berinisiatif untuk membelikannya teh manis
panas agar kepalanya tidak pusing.
Setelah hampir sepuluh menit Nelsa
berbasah diri mencari warung yang menyediakan teh manis panas, ia menghampiri
perempuan itu yang sedang menatap lurus ke arah langit yang mulai menggelap.
Tak ada senja yang indah hari itu. Hanya pemandangan hujan deras yang mengguyur
jalanan yang sedikit demi sedikit disesaki pengendara bermotor.
Nelsa memanggilnya dengan kalimat “Hei…” Dan perempuan itu menengok ke arah Nelsa dengan hidung yang membiru. Sontak
ia panik dan langsung menyerahkan teh panas yang terbungkus plastik bening
sebelum perempuan itu jatuh pingsan. Perempuan itu tadinya tampak ragu untuk
menerima, tapi Nelsa menunjukkan wajah meyakinkan bahwa tidak ada obat bius
atau racun tikus yang ia taburkan di teh itu.
Dan bodohnya, Nelsa lupa meminta
sedotan untuk mempermudah meminumnya. Alhasil sebelum perempuan itu menerimanya,
dengan terlebih dahulu Nelsa memencet ujung plastik lalu menariknya sedikit
sehingga bentuk plastik itu sedikit memanjang dan lancip. Kemudian Nelsa
memberikan teh itu dan memberi tau cara menikmatinya, yaitu dengan menggigit
ujung plastiknya agar tercipta lubang kecil supaya air teh itu mengalir dari
sela lubang plastik.
Perempuan itu hanya tersenyum
menerimanya dan menganggukkan kepala seraya berkata, “Terima kasih banyak ya. Maaf
banget ngerepotin.”
“Iya,
nama lo siapa?”
“Dias.
Lo?”
“Nelsa.”
Perempuan itu memiringkan kepala dengan
wajah sedikit bingung. “Kok
kayak nama cewek?”
“Nggak
ngerti deh, nyokap gue yang ngasih. Gue sih biasa dipanggil Eza.”
Bibirnya yang pucat itu perlahan
melengkung dan menciptakan senyuman yang manis sekali.“Salam kenal ya, Nel, ngomong-ngomong
tehnya kemanisan” ucapnya pelan.
Setelah menghabiskan teh manis panas
dengan perlahan-lahan. Nelsa memperhatikan wajahnya yang pucat berangsur
memerah. Tampaknya aliran darah di syaraf-syaraf wajah perempuan itu mulai
normal.
Dalam keheningan yang terjadi cukup
panjang, Nelsa mulai banyak bertanya mengenai diri perempuan itu. Bertanya
mengenai buku apa yang dia cari. Bertanya mengenai dia kuliah di mana, semester
berapa, dan di mana tempat tinggalnya.
Untuk ukuran orang yang baru dikenal,
sepertinya Nelsa pantas untuk dilaporkan kepada polisi karena mengajukan
pertanyaan yang bersifat cukup pribadi. Tetapi perempuan itu menjawabnya dengan
ramah. Nelsa agak tergelitik iseng menanyakan keberadaan kekasihnya, dan
perempuan itu menjawabnya dengan menggelengkan kepala serta cemberut,
sebab Nelsa meledeknya dengan kalimat. “Cantik-cantik jomlo.”
Hujan perlahan reda, sekali lagi Nelsa
mencoba hal yang kurang sopan untuk ukuran orang yang baru saja berkenalan,
yaitu mengantarnya pulang. Awalnya Dias menolak dengan penuh rasa canggung
dan beralasan bahwa dirinya bisa pulang sendiri. Tetapi Nelsa menjelaskan bahwa
ia tidak tega membayangkan seorang perempuan pulang sendirian menaiki kendaraan
umum dengan kondisi basah kuyup.
Akhirnya lewat perdebatan kecil yang
cukup alot, Dias pun pasrah duduk di belakang kemudi jok motor Nelsa hingga
sampai di kosnya. Di depan pintu kos, setelah Dias mengucapkan terima kasih,
dengan tanpa rasa malu Nelsa meminta nomor ponselnya dan kemudian ia mendapatkannya
dengan mudah, meskipun Dias memberikannya dengan wajah curiga.
Perkenalan yang klise, namun sangat
berarti. Bagi Nelsa tak ada pertemuan yang tidak disengaja, karena Tuhan pasti
sengaja dan dalam keadaan sadar melangsungkan hal itu kepada mereka berdua.
Setelah perkenalan itu, mereka mulai
bertukar kabar, bertukar buku bacaan, dan menciptakan pertemuan-pertemuan berikutnya
dalam tenggang waktu dua minggu. Nelsa akui, tidak butuh waktu
lama untuknya merasa nyaman dan…, ya, jatuh cinta. Nelsa membiarkan
perasaan itu tumbuh perlahan-lahan dengan harapan yang tidak terlalu rimbun
dari hari ke hari. Nelsa sadar sekali bahwa mereka baru saja berkenalan. Bukan
hal yang baik bila perasaan itu bergebu-gebu.
Namun ketika perkenalan dan pendekatan
kita memasukin akhir bulan kedua, Nelsa mulai merasakan perubahan dalam dirinya
yang mencolok. Dias mulai sulit untuk memberi kabar. Nelsa mengirimkan pesan
pagi, Dias baru membalasnya ketika malam meninggi. Dias pun jarang menanggapi
ajakanku untuk bertemu. Atau saat Nelsa sedang rindu ingin mendengar
suaranya, ponselnya tidak bisa dihubungi. Dias menghilang dalam beberapa waktu.
Yang ia tau dari alasannya adalah dia sibuk, terlalu sibuk.
Rasa cemas pun mulai mengakar di dalam
hati dan pikiran Nelsa. Membuat Nelsa menerka-nerka apa yang sedang terjadi di
dalam dirinya tiap kali kabarnya menghilang. Membuat Nelsa mengira Dias
menjauhinya karena dia sedang dekat dengan orang lain dalam keterangan
sibuk akan kuliahnya. Hingga pada akhirnya rasa takut akan kehilangan
hadir dan berdiri kokoh di dalam hati Nelsa.
Starting at the bottom of your glass
Hoping one day you will make a dream last
The dream come slow and goes so fast
You see her when you close your eyes.
Maybe one day you will undestand why.
Everything you touch all it dies.
Nelsa mencoba bersabar dengan semua itu.
Berusaha mengusir jauh-jauh pikiran negatif dan menelaah kesimpulan positif
dengan kondisi di antara mereka berdua kala itu. Berusaha memahami kesibukannya
yang membuat mereka perlahan jauh. Pada setiap malam Nelsa selalu berdoa semoga
Dias baik-baik saja. Ia tak ingin ada hal buruk terjadi pada diri perempuan itu.
Di dalam ketidakpastian tersebut, Nelsa
mulai menyadari posisinya di dalam kehidupan Dias sebagai siapa. Ia benar-benar
sadar seharusnya ia tidak berhak menuntut apa-apa dari Dias meski hanya berupa
bertukar kabar atau perhatian kecil, yang sebenarnya ia rindukan. Ya, Nelsa
begitu merindukannya. Sangat merindukannya.
“Nelsa…” Suara lirihnya perlahan
menyadarkan lamunan Nelsa.
“Ya?” Nelsa mengalikan fokus
pandangannya yang kosong dari gelas plastik Hazelnut Signature Chocolate milik Dias. Tiba-tiba saja Nelsa mengembuskan napas berat mengingat
keputusan yang sudah ia tetapkan pada pertemuan ini.
“Kamu kenapa?” tanya Dias dengan wajah
bingung.
Nelsa mengusap wajah dengan sebelah
tangan dan menyeruput caffe
mocha yang teronggok sedari satu jam lalu dan
belum disentuh sekali pun.
“Aku rasa kita harus mengakhiri ini,”
ucap Nelsa serius.
Ekspresi Dias yang sendu langsung
berubah menjadi panik dengan kalimat yang baru saja Nelsa ucapkan. “Maksud
kamu?”
“Aku rasa kita harus mengakhiri ini,
Dii,” Nelsa memijat kening dengan sebelah tangan, “aku sadar sepertinya kita
nggak bisa lebih dari teman ya.”
Setetes air mata tiba-tiba turun dari
mata Dias, menuju pipi. Dias langsung menghapusnya, dengan nada frustrasi ia berkata,
“Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti.”
“Iya, menghentikan kedekatan kita, Dii,”
kata Nelsa lirih. Ada getir yang terselip di ujung lidah ketika
mengatakannya.
“Ta…, tapi, kenapa?” Dias menggelengkan
kepala seolah menutut alasan yang masuk akal.
Nelsa mencoba mengatur nada bicara
karena emosinya mulai naik turun agar tidak menyakiti Dias, dengan lirih Nelsa
berkata, “Aku mencintaimu, Dii. Dan sepertinya perasaan itu tidak tepat.
Aku salah menilai kedekatan kita selama ini, tapi perasaan itu terlanjut tumbuh
perlahan dan membesar hingga detik ini kita bertemu. Aku tidak dapat
menyembunyikannya lagi.”
Hening. Dias mendengar pengakuan Nelsa
dan bergeming.
“Aku rasa kamu nggak merasakan hal yang
sama ya,” lanjut Nelsa dengan menundukkan kepala. Ia mulai merasakan nyeri yang
teramat sangat di sekujur tubuhnya. Lemas sekali. Oh, inikah rasanya patah
hati?
Tidak ada suara yang keluar dari pita
suara Dias. Bibirnya terangkat setengah, tapi menggantung dan kelu. Kedua matanya
memejam beberapa detik. Nelsa tidak bisa menebak apa yang sedang Dias pikirkan.
Nelsa mengangkat kepalanya, lalu
mengumpulkan kekuatan untuk meraih tas selempang yang terbaring di samping sofa
untuk beranjak pergi. Ia memandang Dias
sekilas yang masih membisu. Dias hanya memandangnya dengan tatapan yang tidak
dapat ia artikan. Wajah Dias merah padam, seperti menahan air mata yang sudah
di ujung tembok pertahanan.
“Baiklah kalau begitu, Dii. Memang tak
ada lagi yang harus diteruskan dalam kedekatan kita,” Nelsa memaksakan senyum
untuk Dias, “terima kasih atas segalanya, untuk semua pertemuan, semua
perhatian, dan semua waktu yang kita lalui berdua kemarin. Maafkan
atas keegoisanku. Aku mencintaimu.”
Dias tetap diam. Nelsa tidak berharap
Dias menahannya seperti di adegan-adegan film. Tetapi ia berharap seandainya
saja Dias mengatakan sepatah kata untuk sebuah kejelasan pada akhir pertemuannya
ini.
Dan, Dias tidak melakukannya.
Hingga akhirnya Nelsa memutuskan untuk
beranjak dari posisi duduk dan melangkah pergi meninggalkan Dias
tanpa berkata apa-apa lagi. Pada langkah pertama, kedua kakinya terasa sangat
berat sekali, hingga pada langkah kedua dan berikutnya Nelsa meneruskan, rasa
nyeri di dalam hatinya terasa semakin hebat. Ia tetap memaksakan diri
menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh atau yang lebih buruk…,
melangkah mundur.
Saat keluar dari pintu cafe, entah
mengapa Nelsa ingin sekali melirik ke kaca tembus pandang untuk melihat
keberadaan perempuan itu untuk terakhir kalinya. Dada Nelsa terasa sangat sesak
ketika ada seorang pria menghampiri Dias, lalu duduk di sofa tempat ia
menunggu Dias tadi. Nelsa dapat melihat mereka berdua meskipun tidak terlalu
jelas dari langkahnya yang kian menjauh. Pria itu mengucapkan kalimat
yang-entah-apa-itu, kemudian menggenggam tangan Dias seraya tersenyum.
Pria itu, pria itu… Dia yang tak sengaja
ia lihat dua hari lalu di depan kosmu dan berjalan masuk sambil membawa
sebuah kado berbentuk persegi yang cukup besar. Nelsa menebak isi kado itu
adalah sebuah tas biru merk Zalora yang telah lama Dias inginkan. Dias pernah
menceritakannya, dan menabung untuk memiliki tas itu.
Kini Nelsa memahaminya…
Terima
kasih, selamat tinggal, Dias, ucapnya dalam
hati dengan senyum dan setitik air mata yang jatuh, menyatu dalam langkah
dan perasaan yang hancur lebur.
Never to
touch and never to keep
Because
you loved her to much
And you
dive too deep.
And you let
her go.
Let her
go Nelsa.
Ini lak seng mlebu artikel cerpen desember wingi seh ya mun? Btw iku lak curhatanku seh :'(
BalasHapusIyes! Haha gpp ben pernah. Lagian kan keren curhatanmu mlebu artikel :p
BalasHapus