Adakah
yang lebih pahit dari rasa kopi hitam?
“Ini mbak, silahkan dinikmati kopinya,”
ucap seorang barista yang menaruh secangkir kopi hitam pesananku ke meja
berwarna hitam tempat kedua tanganku direbahkan sambil tersenyum ramah ke
arahku.
“Iya, terima kasih mas,” balasku
singkat.
Setelah barista itu kembali ke dapur aku
melihat ke arah jam Christ Verra berwarna hitam yang mengikat lengan kiriku.
Jam tangan pemberian salah satu teman yang kini sudah menjadi penulis senior.
Jarum jam tipisnya menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ya, malam ini aku
sedang duduk di sebuah kedai kopi yang pernah kuceritakan sebelumnya.
Telingaku tersumpal earphone yang sedang menyanyikan lagu Mew – Comforting Sounds
yang diputar dari playlist laptop yang setia menemaniku sejak kelas dua SMA hingga
kini. Kau boleh menganggap aku orang yang sangat kurang kerjaan, bukannya melanjutkan
artikel yang deadline, belajar sempoa bayangan tetapi malah duduk
manis menatap nanar di depan laptop.
Abaikan paragraf sebelumnya, karena
mataku sekarang tertuju pada secangkir kopi yang barusan kupesan. Aku melihat
cairan hitam itu menggenang angkuh dirangkul cangkir berwarna putih gading yang
menduduki piring kecil berwarna senada. Asapnya mengepul dan menari-nari di
udara seakan menggoda lidahku untuk segera mengecapnya. Seketika aku menatap
nanar jalan terotoar sembari mengecap kopi. Aku melamun dan...
Srupp…
BRENGSEK!
“HUAAAH!” Aku refleks langsung
menyemburkan kopi yang menyiksa lidahku. Rasanya seperti ditempeli setrika
sekaligus mengunyah buah mengkudu. Panas bercampur pahit. Bodohnya lagi aku
teringat bahwa kopi ini sedang panas-panasnya dan belum kutaburi gula sama
sekali.
Gulanya sendiri masih teronggok di gelas
kecil berwarna bening yang berjarak hanya lima senti dari cangkir kopi.
Untungnya pengunjung kedai kopi ini sepi, hanya ada empat orang yang duduk
berjauhan dari posisiku sekarang. Dan perhatian mereka sibuk dengan pikiran dan handphone-nya masing-masing, sehingga tidak menyaksikan
kejadian bodoh barusan.
Syukurlah, aku langsung mengambil dua
lembar tisu yang tersaji pada kotak krem persegi yang berdiri di tengah-tengah
mejaku, dan mengelap beberapa cairan kopi yang terpental dari mulutku sehingga
membuat genangan kecil di beberapa sudut meja di sekitar cangkir kopi.
Kembali pada cangkir kopi yang menjadi
tersangka akibat kejadian bodoh yang kulakukan barusan. Aku masih sangat jelas
merasakan rasa pahitnya.
Ya,
pahit. Sangat pahit.
Mengingatkanku
pada rasa pahit kehilanganmu yang sebenarnya aku membutuhkanmu. Kombinasi rasa
pahit kopi dan pahit kehilanganmu benar-benar menimbulkan nyeri di lidah dan
hatiku kini.
Aku memutuskan menyudahi cerita ini,
karena…, aku sedang menikmati lagu yang masih mengalun di telingaku sambil
melihat ke arah aspal jalan yang sepanjang jalannya dibasahi gerimis, sehingga
memantulkan sinar lampu jalan dan memberikan pemandangan yang temaram. Romantis
sekali rasanya jika saja kau berjalan beriringan denganku sekarang, dan kita
saling menutupi kepala masing-masing dengan kedua telapak tangan. Dan itu
memang khayalanku saja. Hahaha.
Kini aku menikmati pemandangan jalan
sambil menikmati rindu-rindu yang baru saja datang bertamu ke dalam dadaku
lewat rasa pahit kopi jahanam yang sekarang mengecap jelas di lidahku. Nyeri.
“Mas, pesen es teh tarik blend-nya ya satu ya.”
“Loh kopinya enggak diminum mbak?”
“Enggak, lidah saya kepanasan ini.
Hehehe.”
“Lha? Oke, tunggu sebentar ya.”
Maaf
kopi hitam, aku terpaksa tidak menikmati rasamu untuk kali ini. Habisnya,
kamu terlalu nyebelin sih.
Oh
iya, selamat malam, maaf aku merindukanmu lagi untuk yang kesekian kali.
Komentar
Posting Komentar