Langsung ke konten utama

! Ada Kata yang Hilang

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Penulisnya sedang ambil cuti dengan alasan tak pasti; tak ada lagi irama kesedihan yang bergelayut pada nada tiap aksaranya. Jejak-jejak retakan lukanya yang dulu berteriak lantang telah sembuh dari peluh yang tumbuh, dari ujung kuku kaki hingga ujung rambut kepala yang berkali-kali rubuh.

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Rindu tak lagi menggigil dan nyeri akibat rasa pegal berdiri menjemput temu di taman, atau di sudut kota, atau di cafe, atau di kata kapan yang tergopoh-gopoh. Rindu sudah terbang kemana pun dia mau, mencari tempat ternyaman untuk bersarang dan menunggu keajaiban datang.

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Sapaan tiap hari sudah tak lagi terdengar dan terlihat oleh indera akibat perasaan lelah yang merayu logika untuk berhenti, berhenti memikirkan hal yang tak pasti dan berhenti menyakiti perasaannya yang mati.

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Hutang janji yang baru dibayarnya dengan setengah napas sesak, sepertiga cambuk perih, dan seperlima aroma kematian yang mampir datang dalam sisa amin yang dilantunkan oleh sang pendoa. Saat hatinya patah dalam pengharapannya sendiri.

“Nona…”

“Apa?”

“Tolong bilang pada penulis puisi ini, ada kata yang hilang dari secarik puisi yang sedang dibacanya kali ini.”

“Apa?”

“Cinta.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…