Ada kata
yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Penulisnya sedang ambil cuti
dengan alasan tak pasti; tak ada lagi irama kesedihan yang bergelayut pada nada
tiap aksaranya. Jejak-jejak retakan lukanya yang dulu berteriak lantang telah
sembuh dari peluh yang tumbuh, dari ujung kuku kaki hingga ujung
rambut kepala yang berkali-kali rubuh.
Ada kata
yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Rindu tak
lagi menggigil dan nyeri akibat rasa pegal berdiri
menjemput temu di taman, atau di sudut kota, atau di cafe, atau di kata
kapan yang tergopoh-gopoh. Rindu sudah terbang kemana pun dia mau, mencari
tempat ternyaman untuk bersarang dan menunggu keajaiban datang.
Ada kata
yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Sapaan tiap hari sudah tak
lagi terdengar dan terlihat oleh indera akibat perasaan lelah yang merayu
logika untuk berhenti, berhenti memikirkan hal yang tak pasti dan berhenti
menyakiti perasaannya yang mati.
Ada kata
yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Hutang janji yang baru
dibayarnya dengan setengah napas sesak, sepertiga cambuk perih, dan seperlima
aroma kematian yang mampir datang dalam sisa amin yang dilantunkan oleh sang
pendoa. Saat hatinya patah dalam pengharapannya sendiri.
“Nona…”
“Apa?”
“Tolong
bilang pada penulis puisi ini, ada kata yang hilang dari secarik puisi yang
sedang dibacanya kali ini.”
“Apa?”
“Cinta.”
Komentar
Posting Komentar