Langsung ke konten utama

Tentang Pengganti

Sesuatu yang telah berakhir, seharusnya memanglah berakhir. Tanpa ada satu hal pun yang masih tertinggal atau berbekas. Dan setelah itu kita memulai lembaran baru. Tetapi sayangnya tidak sesederhana itu, setiap manusia memiliki ingatan yang menyimpan kenangan, membuat manusia itu sendiri menjadi pengingat yang baik perihal momen yang pernah dilewati bersama.
Di antara ratusan juta manusia yang tinggal di bumi ini, ada yang datang dan pergi di dalam kehidupan. Ada yang hanya singgah sejenak lalu pergi. Di antaranya ada juga yang menetap hingga saat kamu membaca tulisan ini. Orang yang datang mengisi kehidupan sedikit banyak memberikan perubahan di dalam diri dan dunia kita. Orang yang pergi pun sedikit banyak memberikan kenangan dan pelajaran yang kita ingat di dalam kepala.
Ya, orang yang pergi selalu meninggalkan kenangan. Suara, canda, tawa, tangis, senyum, pengalaman, dan hal apapun yang membekas di ingatan.
Sebagian orang masih mengingat dan menikmati kenangan tentang seseorang yang dicintainya. Kadang kenangan yang membangkitkan luka, yang berisiko menyakiti hati. Sama halnya seperti memutar sebatang lilin atau rokok di antara jemari dan telapak tangan. Kamu tau betul akan terluka jika ujung lilin atau rokok yang menyala terkena kulit, tapi kamu tetap melakukannya. Mungkin seperti itulah analogi ketika menikmati kenangan, ya terasa sakit.
Ketika seseorang yang kamu cintai pergi dalam keadaan masih sangat mencintainya, apa yang akan kamu lakukan? Beranjak dan merelakannya? Atau pasrah terjebak dalam kubangan masa lalu? Atau…, mencari seorang ‘pengganti’? Seorang yang baru untuk menggantikan posisinya di hatimu. Seorang yang kamu butuhkan untuk mengobati luka patah hati. Seorang pengganti yang dapat kau cintai.
Berbicara tentang pengganti, secara sadar atau tidak, sebetulnya kamu hanya menukar posisinya dengan dia yang telah pergi.
Dan taukah kamu bahwa itu sebuah hal yang keliru?
Takkan ada pengganti untuk dia yang telah pergi, takkan ada. Sebab dia hanya satu dan satu-satunya di dunia ini. Dia spesial dan memiliki tempat yang istimewa di hatimu, karenanya kamu mencintainya dengan sangat sampai sulit dan bahkan tidak bisa merelakannya.
Menjadikan dia yang baru sebagai pengganti sama saja kamu menganggapnya sebagai alat yang berfungsi membahagiakanmu dan sebagai pelampiasan. Kamu tidak benar-benar mencintainya, karena perasaanmu masih yang lama. Cinta terhadap orang yang telah pergi. Dengan begitu kamu menipu hati.
Bukankah itu egois? Karena kamu hanya memikirkan dirimu sendiri? Bukankah itu bentuk ketidakmampuanmu dalam menerima kenyataan bahwa dia yang lama telah pergi? Sehingga kamu menggunakan dia yang baru sebagai pengganti.
Dia yang baru adalah seorang yang sepantasnya kamu cintai dengan hati dan perasaan yang baru, yang tanpa sedikit pun tertempel hal dari masa lalu. Seperti selembar kertas putih yang masih kosong. Kamu dan dia menulis cerita baru tanpa mengingat lagi hal-hal yang sudah berlalu.
Ingatlah, dia yang baru bukanlah pengganti, dia punya peran dan porsinya sendiri mengisi kehidupanmu. Lebih baik atau lebih buruk pun takkan sama, meskipun ada kemiripan dengan dia yang lama.
Menjadikan dia yang baru sebagai pengganti sama saja menyakiti dirimu sendiri dan tentu menyakitinya, sampai suatu hari kamu menyadari bahwa yang telah kamu lakukan adalah sebuah kesalahan atas egomu. Sampai suatu hari dia akhirnya menyadari bahwa kamu tidak benar-benar mencintainya.
Dia yang baru bukanlah pengganti, sebab dia mencintai dirimu dan yang menemanimu membangun masa depan.
Dia yang telah pergi takkan terganti. Dan dia yang menggenggam tanganmu sekarang bukanlah pengganti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…