Langsung ke konten utama

Celebrating Loss :')



Malam semakin hingar dengan suara kesunyian. Bunyi kaki jangkrik yang bergesek bersatu padu dengan keheningan. Wajah kusam, rambut berantakan, mata yang melotot bak burung hantu yang lelah terjaga, serta udara dingin yang lebih tajam dari pisau pembelah daging seakan belum cukup menujukkan ketersiksaan pikiran yang kalut.




Mengecap kepahitan pada tiap hela napas, memahami rekaman kebisuan dalam diri tak pernah sesederhana permintaan maaf seorang bocah yang tertangkap basah mencuri roti. Tak penting seberapa damai keadaan atau pun sesahih apapun tingginya pengharapan apabila banyak doa yang mengendap pada sisa ingatan yang konon menumpuk pada leher langit demi mengantri pengabulan.
Kenangan seolah algojo bengis yang menghakimi kepalaku. Desau peluh di pori-pori kulit rindu enggan lagi merengek seperti bayi kecil yang ingin merayakan air susu ibu mengingat ancamannya. Jantungku mengabaikan panggilan lelah seluruh nadi atas kehilangan yang terpaksa kuterima meskipun logika menyangkal hati yang bersikukuh mempertahankan idealismenya bahwa kau masih ada.
Dan aku, hanya seorang pecundang bodoh yang geram ingin menyangkal naskah takdir. Kukira aku takkan senestapa ini setelah kepergianmu yang telah lama dari sisiku. Seandainya saja bukan waktu atau keadaan yang kau jadikan kambing hitam untuk penyesalan jenjang kakimu.
Pada mulanya kita tak lebih dari seorang pendongeng yang terlalu percaya keajaiban kata semoga. Tetapi sorot matamu selalu menyiratkan arah keganjilan mengenai cerita yang sembunyi-sembunyi kau tunjukkan ketika terlelap. Lewat mimpi kau mengajarkanku menjahit kebahagiaan tanpa takut ada benang kesedihan yang tak sengaja terikat. Lewat mimpi juga kau menceritakan tentang kisah lubang jalan yang meresapi tiap bulir hujan yang menciptakan genang sehingga kita dapat bercermin lewat sisi yang lain.
Demi menyelamatkan alur kehidupan yang hampir punah, kau obati kejomloanmu dengan kebersamaan kita. Nyatanya, kau lihai berbohong pada janji yang sudah berteriak kegirangan suatu hari akan ditepati. Kau malah memilih mendidihkan darah seluruh tubuhmu, kemudian pergi tanpa sedikit pun meninggalkan pesan agar aku bangkit lagi dari keniscayaan yang tak henti-hentinya mengecup kekosongan.
Kini, aku berdiri dengan kedua lengan menjaga kepalaku agar tetap tegak tanpa harapan di trotoar jalan. Menatap bayanganmu yang sedang melambaikan tangan untuk menyapaku di bawah lampu penerang. Dan bayanganmu tersenyum padaku seraya berkata “apa kau baik-baik saja?”.  Kau tak tau di dalam pikiranku sudah ada kenangan yang sedang duduk bersila dengan senyum terbaiknya. Dia siap membunuhku dari dalam kapan saja hanya dengan mengnuskan pedangnya jika aku menunjukkan gerak-gerik sesuatu di dalam keikhlasan.
Inilah yang kumaksud merayakan kehilangan (Celebrating Loss). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…