Malam semakin hingar dengan suara
kesunyian. Bunyi kaki jangkrik yang bergesek bersatu padu dengan keheningan.
Wajah kusam, rambut berantakan, mata yang melotot bak burung hantu yang lelah
terjaga, serta udara dingin yang lebih tajam dari pisau pembelah
daging seakan belum cukup menujukkan ketersiksaan pikiran yang kalut.
Mengecap kepahitan pada tiap hela napas,
memahami rekaman kebisuan dalam diri tak pernah sesederhana permintaan maaf
seorang bocah yang tertangkap basah mencuri roti. Tak penting seberapa damai
keadaan atau pun sesahih apapun tingginya pengharapan apabila banyak
doa yang mengendap pada sisa ingatan yang konon menumpuk pada leher langit
demi mengantri pengabulan.
Kenangan seolah algojo bengis yang
menghakimi kepalaku. Desau peluh di pori-pori kulit rindu enggan lagi merengek
seperti bayi kecil yang ingin merayakan air susu ibu mengingat ancamannya.
Jantungku mengabaikan panggilan lelah seluruh nadi atas kehilangan yang
terpaksa kuterima meskipun logika menyangkal hati yang bersikukuh
mempertahankan idealismenya bahwa kau masih ada.
Dan aku, hanya seorang pecundang bodoh
yang geram ingin menyangkal naskah takdir. Kukira aku takkan senestapa ini
setelah kepergianmu yang telah lama dari sisiku. Seandainya saja bukan
waktu atau keadaan yang kau jadikan kambing hitam untuk penyesalan jenjang
kakimu.
Pada mulanya kita tak lebih dari seorang
pendongeng yang terlalu percaya keajaiban kata semoga. Tetapi sorot matamu selalu menyiratkan arah keganjilan
mengenai cerita yang sembunyi-sembunyi kau tunjukkan ketika terlelap.
Lewat mimpi kau mengajarkanku menjahit kebahagiaan tanpa takut ada benang
kesedihan yang tak sengaja terikat. Lewat mimpi juga kau menceritakan
tentang kisah lubang jalan yang meresapi tiap bulir hujan yang
menciptakan genang sehingga kita dapat bercermin lewat sisi yang lain.
Demi menyelamatkan alur kehidupan yang hampir
punah, kau obati kejomloanmu dengan kebersamaan kita. Nyatanya, kau lihai
berbohong pada janji yang sudah berteriak kegirangan suatu hari akan
ditepati. Kau malah memilih mendidihkan darah seluruh tubuhmu, kemudian pergi
tanpa sedikit pun meninggalkan pesan agar aku bangkit lagi dari keniscayaan
yang tak henti-hentinya mengecup kekosongan.
Kini, aku berdiri dengan kedua
lengan menjaga kepalaku agar tetap tegak tanpa harapan di trotoar jalan.
Menatap bayanganmu yang sedang melambaikan tangan untuk menyapaku di bawah
lampu penerang. Dan bayanganmu tersenyum padaku seraya berkata “apa kau baik-baik saja?”. Kau
tak tau di dalam pikiranku sudah ada kenangan yang sedang duduk bersila dengan
senyum terbaiknya. Dia siap membunuhku dari dalam kapan saja hanya dengan
mengnuskan pedangnya jika aku menunjukkan gerak-gerik sesuatu di dalam
keikhlasan.
Inilah
yang kumaksud merayakan kehilangan (Celebrating Loss).
Komentar
Posting Komentar