Kapan kau
akan jatuh cinta?
Ketika kau ingin menabur gula pada cangkir kopimu yang penuh duka. Menikmatinya bersama foto mantan kekasih yang memilih berdansa dengan seorang pengoda ketimbang denganmu yang masih berkutat dengan janji setianya (haha wes ora onok setia-setia'an seng onok mah selingkuh tiada akhir).
Kapan kau
akan jatuh cinta?
Kau bertanya pada cermin retak yang malas menjawab ucapanmu. Karena kau masih menekuni hobi meneguk air matamu sendiri sambil menyanyikan lagu sendu untuk menghibur rindu jalang yang tak segan memukul pantatmu dan memaksamu lari dari kenyataan. Sampai akhirnya kau jatuh berbenturan dan sadar karena semua itu percuma.
Kau bertanya pada cermin retak yang malas menjawab ucapanmu. Karena kau masih menekuni hobi meneguk air matamu sendiri sambil menyanyikan lagu sendu untuk menghibur rindu jalang yang tak segan memukul pantatmu dan memaksamu lari dari kenyataan. Sampai akhirnya kau jatuh berbenturan dan sadar karena semua itu percuma.
Kapan kau akan jatuh cinta?
Saat kenangan menghampir saraf-saraf otakmu. Karena kau masih gemar menikmati momen indah yang berlalu tapi waktu engan memberi restu dan memutus salah satu impuls otakmu agar kau melupakan masa lalu.
Kapan kau
akan jatuh cinta?
Saat kau masih gemar berendam di dalam nestapa yang kau tuang pada puisi patah hati yang kau baca dengan sahih sekali menghayati sampai kau sadar diri.
Saat kau masih gemar berendam di dalam nestapa yang kau tuang pada puisi patah hati yang kau baca dengan sahih sekali menghayati sampai kau sadar diri.
Kapan kau
akan jatuh cinta?
Baiklah aku akan menjawabnya, mungkin saat semesta mempertemukan kita (kau dan entah siapa) di suatu
senja yang ingin dilapisi hujan tipis dengan kilauan jingga, lalu kita menari dengan sangat keras
kepala, hingga lelah, hingga pasrah, hingga menyerah.
Kapan kau
akan jatuh cinta?
Setelah menyebut nama panjang di dalam doa padat pengharapan dengan satu hela
napas panjang di sujud kedua :)
Komentar
Posting Komentar