Langsung ke konten utama

Kapan kau akan jatuh cinta?

Kapan kau akan jatuh cinta?
Ketika kau ingin menabur gula pada cangkir kopimu yang penuh duka. Menikmatinya bersama foto mantan kekasih yang memilih berdansa dengan seorang pengoda ketimbang denganmu yang masih berkutat dengan janji setianya (haha wes ora onok setia-setia'an seng onok mah selingkuh tiada akhir).

Kapan kau akan jatuh cinta?
Kau bertanya pada cermin retak yang malas menjawab ucapanmu. Karena kau masih menekuni hobi meneguk air matamu sendiri sambil menyanyikan lagu sendu untuk menghibur rindu jalang yang tak segan memukul pantatmu dan memaksamu lari dari kenyataan. Sampai akhirnya kau jatuh berbenturan dan sadar karena semua itu percuma.

Kapan kau akan jatuh cinta?
Saat kenangan menghampir saraf-saraf otakmu. Karena kau masih gemar menikmati momen indah yang berlalu tapi waktu engan memberi restu dan memutus salah satu  impuls otakmu agar kau melupakan masa lalu.

Kapan kau akan jatuh cinta?
Saat kau masih gemar berendam di dalam nestapa yang kau tuang pada puisi patah hati yang kau baca dengan sahih sekali menghayati sampai kau sadar diri.

Kapan kau akan jatuh cinta? Baiklah aku akan menjawabnya, mungkin saat semesta mempertemukan kita (kau dan entah siapa) di suatu senja yang ingin dilapisi hujan tipis dengan kilauan jingga, lalu kita menari dengan sangat keras kepala, hingga lelah, hingga pasrah, hingga menyerah.

Kapan kau akan jatuh cinta?
Setelah menyebut nama panjang di dalam doa padat pengharapan dengan satu hela napas panjang di sujud kedua :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…