Di luar hujan..
Mungkin saat ini kau sedang merebahkan tubuh di tempat tidur sembari meneguk pelan teh, kopi, atau cokelat panas. Mungkin saat ini kau sedang menahan diri untuk tidak berlari keluar rumah, sehingga kau hanya bisa memperhatikan bulir-bulir hujan yang jatuh dan tak pernah bisa kau hitung satu per satu meskipun dalam pikiranmu, kau ingin sekali mengetahui jumlahnya agar rasa penasaranmu selama ini terjawab. Atau mungkin saat ini kau sedang tersenyum menatap layar ponselmu seraya merasakan debar jantungmu tengah berbalas pesan dengan orang yang kau cintai, yang tentunya bukan aku.
Tentang hujan, seperti biasa Ryan sedang menikmati ritme nyanyian semesta yang terlahir dari bulir hujan yang terhempas di tanah sambil memikirkan Lea dan memperkirakan ke mana lagi Ryan akan melangkah perlahan menjauhi Lea. Bukan maksut ingin menjauhinya tapi dia tau ini baik untuk dirinya karena Ryan tau perasaan Lea masih yang lama. Cinta terhadap orang yang telah pergi. Dan Ryan, memaksa Lea untuk mencintainya? Ah tidak! Dia tidak sejahat itu.
***
Ryan mencintai hujan, namun terkadang ia membencinya. Ia membenci hujan karena hujan selalu menjadi kunci yang membuka segala pintu kenangan.
Ketika kenangan itu hadir, seketika kau akan terlena dengan perasaan lama yang tiba-tiba menyeruak dari lubuk hatimu yang terdalam dan menguasai akal sehatmu. Perasaan yang kau kira sudah terbunuh lenyap dan kau makamkan dalam-dalam di relung jiwamu, nyatanya tidak benar-benar mati.
Kenangan seperti sebuah kamera yang secara sukarela mengabadikan momen atau sebuah nama di pikiran dan hatimu.
Kau tau kenapa kau bisa terluka? Karena ketika kau mencintai seseorang, kau tak pernah sadar bahwa kau menorehkan namanya secara perlahan-lahan dan sangat dalam pada permukaan hatimu. Itulah mengapa ketika orang yang kau cintai pergi, hatimu terasa sakit karena torehan nama itu tetap ada. Luka itu takkan benar-benar hilang, dia hidup dan membekas. Ketika waktunya tiba, suatu hari dia akan bangkit dipanggil oleh kenangan.
Itulah sebabnya Ryan begitu benci kenangan yang datang ketika hujan.
Tidak heran ketika kau selesai menikmati rasa itu, tiba-tiba dada sebelah kirimu terasa nyeri sekali. Nyeri yang tidak dapat ditandingi oleh obat mana pun selain waktu yang menjadi penyembuh rasa nyeri itu sendiri.
Cinta adalah luka sekaligus obat dalam satu senyawa. Kau akan terluka karena cinta, dan kau pun akan sembuh karena cinta. Sebuah rasa yang tentatif, yang kadang membuat orang tidak ingin terluka, dan kadang juga tidak ingin sembuh.
Tempat mana pun selalu menciptakan kenangan dan melahirkan janin rindu. Dan waktu merawat rindu dengan sangat baik hingga mereka membesar dan menyesaki dadamu ketika kau tak sengaja mengingat sebuah nama yang pernah begitu kau cintai.
Ketika kau membaca deretan kalimat ini, Ryan sedang memandangi sepanjang jalanan yang lengang dengan secangkir kopi susu yang tergeletak di sebelah lengannya pada sebuah kafe yang sedang sepi. Hanya ada dia dan sahabatnya yang asik berbalas chat dengan sang kekasih daripada mendengarkan salah seorang barista yang bermain gitar asal-asalan, sebenarnya konsentrasi Ryan sedikit terganggu. Tapi itu bukan masalah besar pikirnya, karena dia menyumpal kedua telinganya dengan headset yang sudah dia colokkan ke laptop, lalu memutar beberapa playlist lagu yang biasa dia dengarkan. Sambil melumat lolipop, dia memandangi jalanan yang mulai ramai dengan beberapa bocah kecil yang menggenggam payungnya demi mengumpulkan uang receh yang nantinya digunakan untuk makan malam.
Ryan memandangi salah satu bocah berbaju merah yang memegang payung berwarna biru. Ryan tersenyum melihat wajah gadis itu yang tampak riang, dan tidak takut hujan. Ryan mengerjapkan mata beberapa kali. Berharap sosok bocah itu berubah menjadi sosok Lea yang sedang tersenyum menatap ke arahnya dan berkata, “Ayo bermain hujan!”
“Ayo bermain hujan!”
“Ayo bermain hujan!
Jangan takut!
Katanya kau menyukai hujan? Tapi mengapa kau takut basah? Kau takut sakit?”
Ah, Ryan benci kalimat ajakan itu. Karena Lea tampak cantik sekali dengan wajah yang setengah basah ketika mengucapkannya. Setelah mengucapkannya, ia tak malu-malu menjatuhkan payung birunya dan menari-nari mengelilingi payung itu sembari sesekali menengadahkan kepala melihat ke atas langit. Ia mengangkat kedua lengannya serupa sayap pesawat, lalu ia berjingkrak menginjak tanah sesuka hati seperti bocah yang senang karena baru saja dibelikan mainan baru tanpa menghiraukan baju yang ia kenakan basah kuyup.
Ia melihat langit hingga puas atau hujan reda, atau ketika tiba-tiba hadir petir yang bunyinya menggelegar gendang telinganya. Jika hal itu terjadi, ai akan berlari dengan wajah ketakutan dan memeluk Ryan, lalu kau bertanya kepada Ryan.
“Kenapa ketika hujan harus ada petir? Kenapa bunyi petir itu menakutkan? Padahal hujan sudah cukup menghadirkan melodi indah, dan kenapa petir harus merusaknya dengan suara membuat orang takut?”
Ryan menatap wajahnya yang masih ketakutan. Namun Ryan melihat dia masih bersemangat untuk melanjutkan tarian uniknya. Ia pernah berkata tarian itu adalah tarian yang memanggil pelangi. Dan pelangi adalah simbol puncak kebahagiaan untuk seseorang yang sabar menanti.
“Kau tau mengapa hujan tak selalu melahirkan pelangi?” tanyanya dengan wajah penasaran ketika ia berhenti sejenak untuk mengistirahatkan sepasang kakimu yang telanjang tanpa sendal.
Ryan menggenggam tangannya dengan lembut, kemudian pelan-pelan merapikan ujung rambutnya yang basah dengan jari telunjuk. Wajahnya yang cantik terlihat memucat karena kedinginan, tapi tak ada ekspresi yang menunjukkan ia ingin berhenti.
“Karena tak semua penantian berakhir indah,” jawab Ryan seraya mengusap pipinya yang bulat. Ia menatap Ryan dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa jawaban yang Ryan berikan tidak membuatnya puas.
“Kenapa tidak berakhir indah?”
“Karena tidak semua hal yang kau tunggu menjadi milikmu.”
“Kenapa?”
“Karena kau belajar ketulusan, tidak mengharapkan sesuatu yang kau tunggu menjadi milikmu. Kau melakukan hal itu karena kau menginginkannya, tanpa sebuah imbalan yang nantinya kau dapatkan. Kau tetap melakukan hal itu meskipun di tengah penantianmu, kau tau itu hanya hal yang sia-sia.”
Ia terdiam. Sejurus kemudian ia menari lagi mengelilingi payung birunya. Tetapi kali ini ia melakukannya dengan kepala menunduk seperti kecewa dengan jawaban Ryan.
Lalu tiba-tiba dia terjatuh.
“Aduh! Kakiku tersandung batu!”, ucapnya setengah berteriak. Kakinya berdarah dan dia menatap Ryan dengan penuh rasa sakit.
Dengan perlahan Ryan meraih tangannya dan memapah tubuhnya untuk mencari tempat berteduh. Dia melangkah dengan tergopoh-gopoh sambil memegang payung kesayangannya.
“Kau tak apa-apa?”
“Sakit…”
Hujan perlahan mereda. Dia melihat langit yang masih mendung dan mulai menggelap sambil menahan rasa sakitnya, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran pelangi yang sedari tadi yang dia tunggu.
“Tidak ada pelangi…” Dia berkata tiba-tiba ketika Ryan sedang fokus memandangi lukanya.
“Ya, tidak ada pelangi untuk hujan kali ini.”
“Untuk penantian kali ini.”
Dia tersenyum getir dengan raut wajah kecewa. Masih sambil menahan rasa sakit, dia memaksakan diri untuk melanjutkan tariannya. Namun Ryan menahan tubuhnya, seraya tak ingin dia jatuh dan terluka lagi.
“Jangan menari dulu sampai lukamu benar-benar sembuh,” kata Rya seraya menggenggam tangannya.
“Tapi aku masih ingin menari…”
“Kau masih ingin menari meskipun tidak ada pelangi?”
“Ya, aku ingin tetap melakukannya,” jawabnya yakin. Ryan melepas kedua tangannya. Kemudian dia melempar pelan payung birunya ke tanah dan menari mengelilinginya.
Kali ini gerakan tariannya lebih pelan. Ryan memperhatikannya dengan jelas hingga dia berhenti seraya sesekali menggelengkan kepala.
“Kenapa kau melakukan hal ini?”
“Karena aku mencintai hujan dan aku sedang belajar ketulusan.” Dia tersenyum menjawabnya.
Setelah kalimat itu terucap dan hujan berhenti kita berpisah di persimpangan jalan. Ya, kita hanya dua insan yang beda hingga semesta mempertemukan kita lagi meskipun sudah ribuan hujan terlewati, dan perasaanku yang tak lekang hingga kini.
“Tak!”
Ryan terkaget dengan bunyi itu. Ternyata tangannya tak sengaja menyenggol cangkir kopi dan menjatuhkan sendok yang terbaring di cawannya hingga jatuh ke lantai. Ryan berjongkok untuk memungut sendok itu, dan ketika posisi duduknya kembali seperti semula, tiba-tiba bocah yang tadi membawa payung warna biru itu menghilang di antara kerumunan bocah lainnya.
Kepalanya menengok ke arah sekitar untuk melihat keberadaan bocah itu. Tapi nihil. Bocah itu telah menghilang sepenuhnya. Ryan meneguk kopinya yang ternyata sudah dingin. Entah berapa lama dia melamun.
Setelah menyelesaikan tegukan terakhir, Ryan melihat langit menjadi berwarna oranye. Ada sebuah garis lengkung raksasa berwarna merah, kuning, dan hijau di atas kepalanya.
“Itu pelangi. Itu yang selama ini kau tunggu-tunggu”
Tanpa sadar Ryan teringat dengan kalimat terakhir yang gadis itu ucapkan sebelum menjadi sepasang asing yang telah hilang. Kini Ryan baru benar-benar memahami kalimat yang dulu dia ucapkan untuknya.
“Ini adalah penantianku dan aku masih tetap melakukannya karena aku belajar ketulusan dari hujan, meskipun hujan tak pernah berpelangi.”
Karena tulus takkan pernah diperlihatkan, karena tak bisa di "sebutkan" sama seperti ikhlas terkesan kecil dan mudah? Tidak, karena tulus tak pernah mengharap imbalan. Masalah cinta? Apakah saat kita mengucapkan "tulus" mencintai kita tak mengharapkan balasan? Lagi pula jika hatimu "tulus" maka cinta akan datang membalas ketulusanmu tanpa diminta, karena ketulusan memiliki mata dihati - CM.
Komentar
Posting Komentar