Langsung ke konten utama

Monolog

Sssttt.....
Aku harap saat kamu membaca ini, akmu tidak sedang merasa bahagia atau pun sedih, biasa-biasa saja.

Kita mulai monolog ini...

Beranjak pergi dan kembali. Setiap orang akan selalu begitu, untuk mencari dan menemukan. Dan rasanya aku lupa kapan terakhir kali seseorang menemukan keberadaanku disaat aku mencari. 

Tentang mencari. Apa kau tahu tentang sesuatu? Stt.. Biar kubisikkan sesuatu itu ditelingamu. Kau mencari seseorang seperti yang kau pikirkan bukan? Seperti keinginan atau khayalanmu. Dan itu membuatmu lelah, membuatmu tertatih, membuatmu memetakan perasaanmu sendiri pada setiap orang yang kau temui, membuatmu merasa kedua kakimu telah berjalan sangat jauh, namun kau tak menemukan apapun selain kosong lebih tepatnya menemukan kedua kaki yang menemani langkah kakimu setiap kali kau ingin mencintai seseorang.

Setelah napak tilas hampir enam bulan aku berhenti dan mengistirahatkan hati, nampaknya ia sudah mulai lelah dengan keinginan nyonyanya. Kurasa, sudah saatnya melangakah. Aku sadar akan kesendirianku, bahkan disaat sendiri aku tak merasa sepi. Terkadang aku kesal dengan teman yang opininya meledekku ‘betah sendirian mulu mun?’ atau ‘cantik-cantik sendiri mulu mun’ bahkan yang parah ‘ati-ati mun terlalu asyik sendiri bisa-bisa ngga ada teman hidup loh’ Ironis nampak seperti doa tapi abaikan bukankah jodoh di tangan Tuhan.

Oke lupakan paragraf barusan. Dan aku? Aku 'sedang mencari seseorang yang membuatku jatuh cinta,' seperti halnya aku mencari sesuatu yang hilang. Mencari serpihan yang hilang pada hati, agar terlengkapi. Ketika aku merasa sudah terlalu jauh melangkah ke depan untuk mencari sesuatu yang hilang dan aku tak menemukannya, bukankah sebaiknya aku berhenti sejenak dan melihat ke belakang atau ke sampingku? Mencari di sekitar situ dengan jeli, dan mungkin pada waktunya aku akan menemukannya. Oh tidak, kurasa aku sudah menemukanmu tapi.. keraguan menghantuiku.

Dan kau? Apa kau sudah menemukan? Atau kau sudah menemukan terlebih dahulu daripada aku. Jika sudah namun kau masih tak menemukannya, mungkin memang belum waktunya. Sesuatu yang hilang tidak selalu dapat kau temukan lagi, terkadang kau harus mencari sesuatu yang baru untuk hatimu, tentunya dengan mendengarkan kemana arah kata hatimu bersumber atau kemana debar jantungmu hinggap dan pasti itu pada waktunya. 

Aku selalu kagum dengan rahasia waktu, khususnya pada sepertiga malam saat aku menyisipkan namamu di antara doa-doaku. Mendoakan seseorang yang kutemukan. Lamat-lamat pikiranku berputar memikirkan doa apa lagi yang kurapal pada Tuhan untukmu? Jika kamu….

Aku sudah lupa rasanya bermanja-manja tanpa harus merasa takut dikejar-kejar waktu yang selalu cemburu. Di bangku taman atau dimana pun, kita berseteru untuk mengarang cerita-cerita lucu, yang nantinya akan kutulis di bloknotku.

Dan, waktu tanpa sadar akan selalu menuntutku ke depan, sekali lagi. Aku semakin penasaran dengan rahasia waktu. Itu membuatku ingin mencopot jarum jam yang selalu bergerak ke arah kanan, dan memerintahkannya untuk bergerak ke arah kiri. Agar aku bisa kembali ke masa itu lagi.

Seperti biasa malamku selalu sederhana, tak ada perayaan yang berlebihan, selain merindukanmu. Aku tidak terlalu berharap lagi untuk yang kusebutkan barusan karena bagiku mengikhlaskan adalah satu-satunya pilihan yang harus kulaksanan tanpa ada opsi lain meski itu bukan yang terbaik. Setidaknya untukmu dan hatiku.

Ingin rasanya sesekali bersamamu, saat pagi udara masih terlalu tajam untuk ditabrakan pada muka bantalku. Semua menjadi segar, karena yang kuingat adalah senyummu yang lebar ketika kamu menatap ke hadapanku. Aku selalu menyukai itu. Yang paling kuinginkan hanyalah senyum manismu yang sederhana, tetapi syaratnya kamu harus memandangiku sebentar dan mengingat-ingat hal bodoh yang kita lakukan bersama. Ya, setidaknya bernostalgia haha.

Menikmati keindahan bumi di atas ketinggian permukaan tanah. Berputar-putar tak ada arah, seakan gravitasi enyah. Kita bertatapan dan membiarkan sorot mata kita yang berbicara lewat bahasanya. Kemudian tercipta sebuah senyum yang begitu sempurna. Rasanya aku ingin waktu menghentikan tugasnya sementara. Sebentar saja, tolong biarkan aku menikmati kebahagiaan yang nantinya akan kukenang selamanya.

Sekian dan terima kasih…

Jangan lupa untuk selalu berdoa dan tersenyum seberat apapun hari-harimu Fa. Senyummu adalah pertanda bahwa kamu menikmati pahit dan manis kehidupan di mana pun kamu berada, dan doa adalah pengharapan yang takkan putus untuk bahagiamu di hari esok.

Maaf. Aku hanyalah orang yang bukan siapa-siapamu yang lancang mendoakanmu agar kamu selalu bahagia dan baik-baik saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…