Sssttt.....
Aku harap saat kamu membaca ini, akmu tidak sedang
merasa bahagia atau pun sedih, biasa-biasa saja.
Beranjak pergi dan kembali. Setiap orang akan selalu
begitu, untuk mencari dan menemukan. Dan rasanya aku lupa kapan terakhir kali
seseorang menemukan keberadaanku disaat aku mencari.
Tentang mencari. Apa kau tahu tentang sesuatu? Stt..
Biar kubisikkan sesuatu itu ditelingamu. Kau mencari seseorang seperti yang kau
pikirkan bukan? Seperti keinginan atau khayalanmu. Dan itu membuatmu lelah,
membuatmu tertatih, membuatmu memetakan perasaanmu sendiri pada setiap orang
yang kau temui, membuatmu merasa kedua kakimu telah berjalan sangat jauh, namun
kau tak menemukan apapun selain kosong lebih tepatnya menemukan kedua kaki yang
menemani langkah kakimu setiap kali kau ingin mencintai seseorang.
Setelah napak tilas hampir enam bulan aku berhenti dan
mengistirahatkan hati, nampaknya ia sudah mulai lelah dengan keinginan
nyonyanya. Kurasa, sudah saatnya melangakah. Aku sadar akan kesendirianku,
bahkan disaat sendiri aku tak merasa sepi. Terkadang aku kesal dengan teman
yang opininya meledekku ‘betah sendirian mulu mun?’ atau ‘cantik-cantik sendiri
mulu mun’ bahkan yang parah ‘ati-ati mun terlalu asyik sendiri bisa-bisa ngga
ada teman hidup loh’ Ironis nampak seperti doa tapi abaikan bukankah jodoh di
tangan Tuhan.
Oke lupakan paragraf barusan. Dan aku? Aku 'sedang mencari seseorang yang membuatku jatuh cinta,' seperti halnya aku mencari sesuatu yang hilang. Mencari serpihan yang
hilang pada hati, agar terlengkapi. Ketika aku merasa sudah terlalu jauh
melangkah ke depan untuk mencari sesuatu yang hilang dan aku tak menemukannya,
bukankah sebaiknya aku berhenti sejenak dan melihat ke belakang atau ke
sampingku? Mencari di sekitar situ dengan jeli, dan mungkin pada waktunya aku
akan menemukannya. Oh tidak, kurasa aku sudah menemukanmu tapi.. keraguan
menghantuiku.
Dan kau? Apa kau sudah menemukan? Atau kau sudah
menemukan terlebih dahulu daripada aku. Jika sudah namun kau masih tak
menemukannya, mungkin memang belum waktunya. Sesuatu yang hilang tidak selalu
dapat kau temukan lagi, terkadang kau harus mencari sesuatu yang baru untuk
hatimu, tentunya dengan mendengarkan kemana arah kata hatimu bersumber atau
kemana debar jantungmu hinggap dan pasti itu pada waktunya.
Aku selalu kagum dengan rahasia waktu, khususnya pada
sepertiga malam saat aku menyisipkan namamu di antara doa-doaku. Mendoakan
seseorang yang kutemukan. Lamat-lamat pikiranku berputar memikirkan doa apa
lagi yang kurapal pada Tuhan untukmu? Jika kamu….
Aku sudah lupa rasanya bermanja-manja tanpa harus
merasa takut dikejar-kejar waktu yang selalu cemburu. Di bangku taman atau
dimana pun, kita berseteru untuk mengarang cerita-cerita lucu, yang nantinya
akan kutulis di bloknotku.
Dan, waktu tanpa sadar akan selalu menuntutku ke
depan, sekali lagi. Aku semakin penasaran dengan rahasia waktu. Itu membuatku
ingin mencopot jarum jam yang selalu bergerak ke arah kanan, dan
memerintahkannya untuk bergerak ke arah kiri. Agar aku bisa kembali ke masa itu
lagi.
Seperti biasa malamku selalu sederhana, tak ada
perayaan yang berlebihan, selain merindukanmu. Aku tidak terlalu berharap lagi
untuk yang kusebutkan barusan karena bagiku mengikhlaskan adalah satu-satunya
pilihan yang harus kulaksanan tanpa ada opsi lain meski itu bukan yang terbaik.
Setidaknya untukmu dan hatiku.
Ingin rasanya sesekali bersamamu, saat pagi udara
masih terlalu tajam untuk ditabrakan pada muka bantalku. Semua menjadi segar,
karena yang kuingat adalah senyummu yang lebar ketika kamu menatap ke
hadapanku. Aku selalu menyukai itu. Yang paling kuinginkan hanyalah senyum
manismu yang sederhana, tetapi syaratnya kamu harus memandangiku sebentar dan
mengingat-ingat hal bodoh yang kita lakukan bersama. Ya, setidaknya bernostalgia
haha.
Menikmati keindahan bumi di atas ketinggian permukaan
tanah. Berputar-putar tak ada arah, seakan gravitasi enyah. Kita bertatapan dan
membiarkan sorot mata kita yang berbicara lewat bahasanya. Kemudian tercipta
sebuah senyum yang begitu sempurna. Rasanya aku ingin waktu menghentikan
tugasnya sementara. Sebentar saja, tolong biarkan aku menikmati kebahagiaan
yang nantinya akan kukenang selamanya.
Sekian dan terima kasih…
Jangan lupa untuk selalu berdoa dan tersenyum seberat
apapun hari-harimu Fa. Senyummu adalah pertanda bahwa kamu menikmati pahit dan
manis kehidupan di mana pun kamu berada, dan doa adalah pengharapan yang takkan
putus untuk bahagiamu di hari esok.
Maaf. Aku hanyalah orang yang bukan siapa-siapamu yang
lancang mendoakanmu agar kamu selalu bahagia dan baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar