Aku
sedang menulis ini sambil sesekali melempar pandanganku memperhatikan ponsel
disebah kiriku. Entah mengapa aku memperhatikannya. Nada pesan dari seseorang
sedikit menggangu tapi entah hatiku tak terganggu.
Kau tau? Hidup ini rumit untuk orang yang memendam perasaannya, entah dengan alasan apapun. Alasanku untuk memendam perasaan ini adalah agar kau tidak merasa punya kewajiban atau lebih tepatnya beban untuk membalasnya, untuk itulah aku tidak mengungkapkannya dan bersikap biasa saja. Jika ada orang yang memprotes alasanku berdasarkan logika ‘egois’ karena menikmati cinta sendirian, itu sangat salah. Bagi sebagian orang yang mengetahui cintanya tidak akan terbalas, mereka akan terlalu sadar diri dan memilih untuk tidak pernah mengutarakannya karena jika itu dilakukan hanya akan menghancurkan keadaan.
Kau tau? Hidup ini rumit untuk orang yang memendam perasaannya, entah dengan alasan apapun. Alasanku untuk memendam perasaan ini adalah agar kau tidak merasa punya kewajiban atau lebih tepatnya beban untuk membalasnya, untuk itulah aku tidak mengungkapkannya dan bersikap biasa saja. Jika ada orang yang memprotes alasanku berdasarkan logika ‘egois’ karena menikmati cinta sendirian, itu sangat salah. Bagi sebagian orang yang mengetahui cintanya tidak akan terbalas, mereka akan terlalu sadar diri dan memilih untuk tidak pernah mengutarakannya karena jika itu dilakukan hanya akan menghancurkan keadaan.
Orang yang memendam
perasaannya bukanlah pengecut atau pecundang yang tidak mempunyai nyali.
Melainkan mereka adalah pemberani yang siap untuk menyakiti hatinya sendiri
dengan membunuh harapan yang tidak terbalaskan. Mereka rela melihat dan membuat
orang yang dicintainya tersenyum sepanjang hari, meskipun senyum itu tertuju
untuk orang lain, orang yang beruntung mendapatkannya.
Aku tidak membela diri
dengan ucapan bijak layaknya seorang motivator. Tetapi aku hanya belajar bijak
untuk mengontrol diri dan perasaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh
diriku sendiri. Hidup memang terkadang tidak adil untuk orang yang jatuh cinta
sendirian. Ada hal yang memang tidak baik bila dipaksakan, salah satunya adalah
perasaan, perasaan yang tidak bisa terbalaskan. Inilah yang kurasakan bersamamu
selama ini. Aku tau aku perlahan mulai mencintaimu, dan aku juga
mengikhlaskanmu.
Hati memang bisa
mengubah arah yang akan ditujunya, tetapi kalau tidak? Kita akan hancur dalam
hitungan mundur. Seperti ada bom yang meledak begitu dasyat di
kehidupanmu. Menghancurkan apa yang telah ditata dengan baik. Menghancurkan
kebersamaan yang telah dibuat selama ini.
Cinta itu tentang
dua hati yang mencari untuk saling menemukan, bukan yang satunya sudah
menemukan, namun yang satunya masih sibuk mencari meskipun sudah ditemukan.
Jika itu terjadi pada
kita, aku mengartikannya bukan sebagai bahagia, melainkan petaka yang nantinya
akan memisahkan kita. Itulah hal yang paling aku takutkan selama ini. Maka,
biarlah aku tetap mencintaimu tanpa harus mengungkapkannya Fa, apalagi
meminta kamu membalasnya. Aku akan selalu bersemangat mencintaimu tanpa pamrih
meskipun dalam lubuk hatiku yang terdalam tetap berkeinginan kamu membalasnya.
Level tertinggi
kebahagiaan adalah mencintai seseorang yang juga mencintai kita.
Dan aku tau, mungkin
kita tidak akan pernah mencapai level tertinggi itu. Kita hanya akan tetap
mendaki dan terus mendaki, hingga pada suatu titiki kita akan tersesat, dan
masing-masing dari kita akan diselamatkan oleh orang yang mencintai kita.
Ini aku, seorang
yang sedang yang mulai perlahan merindukanmu dan berusaha mengikhlaskanmu.
wkwkwk level terendah kebahagia adalah mencintai sendirian. dan jika itu terjadi padamu maka sholat isti'khoro lah :D
BalasHapus