Langsung ke konten utama

Memendam

Aku sedang menulis ini sambil sesekali melempar pandanganku memperhatikan ponsel disebah kiriku. Entah mengapa aku memperhatikannya. Nada pesan dari seseorang sedikit menggangu tapi entah hatiku tak terganggu.


Kau tau? Hidup ini rumit untuk orang yang memendam perasaannya, entah dengan alasan apapun. Alasanku untuk memendam perasaan ini adalah agar kau tidak merasa punya kewajiban atau lebih tepatnya beban untuk membalasnya, untuk itulah aku tidak mengungkapkannya dan bersikap biasa saja. Jika ada orang yang memprotes alasanku berdasarkan logika ‘egois’ karena menikmati cinta sendirian, itu sangat salah. Bagi sebagian orang yang mengetahui cintanya tidak akan terbalas, mereka akan terlalu sadar diri dan memilih untuk tidak pernah mengutarakannya karena jika itu dilakukan hanya akan menghancurkan keadaan.

Orang yang memendam perasaannya bukanlah pengecut atau pecundang yang tidak mempunyai nyali. Melainkan mereka adalah pemberani yang siap untuk menyakiti hatinya sendiri dengan membunuh harapan yang tidak terbalaskan. Mereka rela melihat dan membuat orang yang dicintainya tersenyum sepanjang hari, meskipun senyum itu tertuju untuk orang lain, orang yang beruntung mendapatkannya.

Aku tidak membela diri dengan ucapan bijak layaknya seorang motivator. Tetapi aku hanya belajar bijak untuk mengontrol diri dan perasaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh diriku sendiri. Hidup memang terkadang tidak adil untuk orang yang jatuh cinta sendirian. Ada hal yang memang tidak baik bila dipaksakan, salah satunya adalah perasaan, perasaan yang tidak bisa terbalaskan. Inilah yang kurasakan bersamamu selama ini. Aku tau aku perlahan mulai mencintaimu, dan aku juga mengikhlaskanmu.

Hati memang bisa mengubah arah yang akan ditujunya, tetapi kalau tidak? Kita akan hancur dalam hitungan mundur.  Seperti ada bom yang meledak begitu dasyat di kehidupanmu. Menghancurkan apa yang telah ditata dengan baik. Menghancurkan kebersamaan yang telah dibuat selama ini.

Cinta itu tentang dua hati yang mencari untuk saling menemukan, bukan yang satunya sudah menemukan, namun yang satunya masih sibuk mencari meskipun sudah ditemukan.

Jika itu terjadi pada kita, aku mengartikannya bukan sebagai bahagia, melainkan petaka yang nantinya akan memisahkan kita. Itulah hal yang paling aku takutkan selama ini. Maka, biarlah aku tetap mencintaimu tanpa harus mengungkapkannya  Fa, apalagi meminta kamu membalasnya. Aku akan selalu bersemangat mencintaimu tanpa pamrih meskipun dalam lubuk hatiku yang terdalam tetap berkeinginan kamu membalasnya.

Level tertinggi kebahagiaan adalah mencintai seseorang yang juga mencintai kita.

Dan aku tau, mungkin kita tidak akan pernah mencapai level tertinggi itu. Kita hanya akan tetap mendaki dan terus mendaki, hingga pada suatu titiki kita akan tersesat, dan masing-masing dari kita akan diselamatkan oleh orang yang mencintai kita.

Ini aku, seorang yang sedang yang mulai perlahan merindukanmu dan berusaha mengikhlaskanmu.

Komentar

  1. wkwkwk level terendah kebahagia adalah mencintai sendirian. dan jika itu terjadi padamu maka sholat isti'khoro lah :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…