Langsung ke konten utama

Akibat Lupa

Ada satu hal yang kulupa saat ini.
Entah itu hal apa, aku benar-benar lupa.
Tapi aku terus mencoba mengingatnya hingga kepalaku terasa sakit.
Ah, aku benar-benar lupa.

Sebentar.

Tidakkah kau rasa indah saat kau jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Lalu kau merasakan pedih untuk kali pertama saat hatimu kecewa.
Sepertinya, yang aku lupa adalah kedua hal itu.
Tapi lebih berujung kepada hal yang pertama.
Sebab, luka sibuk menyembuhkan tubuhnya.
Sebab, malam tak lebih dari  perihal bunyi rengekan rindu, atau bunyi dentingan arah jarum jam.
Sebab, senja selalu tentang indahnya pemandangan cakrawala.
Sebab, penyair kadang lupa bahwa sajaknya menginginkan makna.
Sebab, entahlah setiap sebab pasti ada akibatnya.
Sebab…, sudahlah, sepertinya aku benar-benar lupa ingin mengingat apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…