Aku tak pernah bosan berkaca di matamu. Meski kadang buram, ia selalu membuka pintu.
Suatu kali, mataku tak berhenti bergerak membaca gerakmu dan aku tak menemukan apa-apa. Seharusnya aku menunduk. Kau telah sampai di dada. Bisa jadi telingamu bosan dengar bising dadaku. Tak ada yang perlu engkau simak. Duduk saja. Maka, tak akan lagi sesak.
Ada yang tak pernah berhenti berkumpul, seperti tik-tok jam dinding. Dan hari itu mungkin aku datang terlambat dan kau masih di tempat. Tempat aku berjanji akan menemuimu.
Dalam perjalanan, aku memasrahkan diri jika kemudian hanya angin yang kutemui. Namun kau di sana, setia menungguku yang gemar tak menepati waktu. “Aku sudah terbiasa menunggu,” katamu. Aku tahu kau telah menunggu bertahun-tahun kesendirian hingga pertemuan pertama kita, ketidaksengajaan yang amat kusyukuri.
Melalui sang waktu, izinkanlah aku berterima kasih karena telah kau curi waktuku yang sedikit ini dan menggantinya dengan kesenangan yang tak dapat dihitung.
Jika pada kemudian hari bukan aku yang kautemui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, aku. Jika pada kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah. Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.
Kau dan aku saling tahu bahwa kita tak lebih dari sekadar kesementaraan yang mengenal usai. Terima kasih telah memulainya, Tuan.
Sejak mengenalmu, aku mengenal aku.
Terima kasih sudah menunggu . Aksara aksara itu buat kamu, iya kamu :)
BalasHapus