Langsung ke konten utama

Love to me ?

Aku si skeptis yang (belum) percaya cinta dapat hadir di antara dua hati yang baru mengenal.

Untukku, mencintai tak harus diawali oleh melisankan “aku sayang kamu”. Sebab, bukannya itu ketergesa-gesaan? Atau hanya deretan kata rayuan?

Untukku, mencintai itu refleksi dari kepedulian. Kau tak perlu merangkai aksara pujian dengan nada-nada. Yang kau butuhkan hanyalah kesinambungan.

Untukku, mencintai itu sangat sederana. Sesederhana saat kau hanya ingin ditemani olehnya, lalu bercerita tentang hal yang tak kau ceritakan pada hati yang lain.

Untukku, mencintai akan membuatmu mau mengerti hati yang kau cintai. Bukaan menurut pada egomu untuk menuntut pengertiannya setiap hari. Tahukah kau hati itu organ yang bisa lelah juga?

Untukku, mencintai bukan hanya karena kau butuh kasih sayang. Mencintai adalah sebuah pengabdian untuk membahagiakan hati lain, hati dimana dia memang layak dicintai. Dan ketika kau berikrar, itu hanya membuatmu semakin sulit. Ada secercah tanggung jawab agar kau tak mengecewakannya.

Untukku, menjatuhkan cinta tak sebegitu mudahnya. Pada hati yang baru ditemui, terutama.

Untukku, sulit untuk percaya (lagi) pada cinta yang baru. Kau tahukan rasanya selalu ditinggalkan karena cinta? Berulang kali. Hatiku mati.

Dan kali ini aku paham dengan sebuah buku yang berkata “jatuh cinta itu perihal kesiapan diri untuk menjatuhkan hati pada dia yang membuat hatimu jatuh di hatinya” kurasa itu benar. Tapi sayangnya, sampa detik ini aku lupa caranya jatuh cinta dan mungkin tak ada seorang yang bisa menjatuhkan hatiku, lebih tepatnya menghidupkannya kembali. 

Komentar

  1. "jatuh cinta itu perihal kesiapan diri untuk menjatuhkan hati pada dia yang membuat hatimu jatuh di hatinya”

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…