Segelas mocca green tea panas baru saja kuseruput pelan penuh penghayatan,
dengan harapan kepenatan di dalam kepalaku luruh dan reda. Kemudian aku mencicipi
potato stik yang kupesan 5 menit lalu,
aku menikmati setiap gigitannya dengan penuh penghayatan dan satu hela napas
panjang. Kali ini aku tidak memesan makanan terlebih dahulu sembari menunggu
sahabatku yang datang bersama kekasihnya.
Kuperhatian
keadaan sekitar kafe ini dan menemukan pemandangan banyak orang yang datang
berpasang-pasangan bersama kekasihnya mereka namapk bahagia. Aku tersenyum
getir, ketika kedua mataku tidak sengaja melihat sepasang kekasih yang saling
bertatapan mesra. Pasangan itu bercanda, tertawa lepas dan bercerita entah
tentang hal apa. Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan menohok terlintas di
kepala.
"Sampai kapan mencari yang
terbaik?"
Sejujurnya,
kalimat itu cukup mengganggu. Membuatku berpikir dan introspeksi diri. Ketika
aku merasa sudah cukup lama mencari seseorang yang bisa dan bersedia kuajak
berbagi berbagai hal. Tetapi hingga detik ini pun hasilnya masih nihil.
Seandainya
jatuh cinta itu bisa ditebak dengan siapa. Sayangnya, kita tidak bisa memilih
dengan siapa kita akan jatuh cinta kelak. Dan seandainya saja, seandainya,
orang yang kita cintai pun juga mencintai kita. Sesederhana itu.
Ya, seandainya saja.
Kupikir
jatuh cinta itu sederhana. Ketika merasa jantungmu berdebar sebegitu kencangnya
dan muncul kehadiran rasa hangat yang menjulur di dada saat melihat atau
bertemu dengan seseorang yang spesial, dan hal itu melahirkan rasa bahagia yang
aneh di dalam hati. Tetapi ternyata kenyataannya tidak selalu begitu
bila dilihat lewat ‘kacamata’ pasangan, banyak yang diperhitungkan. Mulai
dari kriteria, kecocokan, kenyamanan, dan hal lainnya. Semuanya menjadi rumit.
Namun
terlihat mudah bagi sahabatku ini. Terkadang aku iri melihat mereka, mereka
pasangan yang sangat sederhana yang dipertemukan Tuhan secara tidak sengaja. Iya
walaupun lewat media sosial, hebatnya mereka Long
Distance Reletionship.Walau aku tahu mereka berdua terkadang saling ejek,
bertengkar, dan tentunya saling suport tetapi cinta mereka tetap manis. Ya
semanis senyum mereka. Entah mereka memakai ramuan apa, cinta mereka
tidak kadaluwarsa.
Dan
sekarang aku mulai merenungi sebuah cara yang biasa digunakan untuk menemukan
belahan jiwa, atau katakanlah pasangan. Tidak bisa dipungkiri dan
dimunafikan, selama masa lajang kita pasti menginginkan pasangan yang terbaik
–dan sempurna, kan? Kita mencari seseorang itu lewat berbagai macam
proses pendekatan dengan sekaligus banyak orang, dan menyeleksi mereka satu per
satu. Dari satu orang, ke orang lainnya. Terus begitu sampai kita menemukan dia
yang terbaik.
Tapi
pada akhirnya aku menyadari, ketika kita dekat dengan banyak orang dalam
harapan dan tujuan mendapatkan yang terbaik lewat melihat cara dan kesungguhan
mereka berjuang, sesungguhnya kita tidak benar-benar mencari, tetapi kita
berjudi.
Berjudi dengan menjadikan
mereka pilihan.
Bayangkankanlah
seorang penjudi yang mempertaruhkan uangnya habis-habisan demi mendapatkan
uang yang lebih banyak -yang belum tentu didapatkan. Seperti itulah kesamaannya
dengan posisi orang-orang yang berjuang mendapatkan hatimu. Dan kamu adalah
bandar judi yang menjudikan hati mereka.
Dalam
proses penyeleksian itu, mereka yang kamu beri kesempatan berusaha memberikan
apa yang kamu ingin dan butuh; perhatian, waktu, dan kasih sayang (yang
tentunya masih dalam batas tertentu). Mengorbankan apa yang dia miliki
dengan harapan mereka dapat mengenalmu lebih jauh luar-dalammu dan memilikimu.
Namun
sadarkah kamu dengan cara itu kamu malah menjadi lebih sulit fokus menentukan
pilihan siapa yang terbaik? Ketika kamu dekat dengan yang pertama dan
fokus dengannya, tetapi kamu tidak menemukan yang kamu cari. Lalu kamu
berpaling dengan yang kedua, berusaha fokus dengannya, tetapi ternyata
kamu juga tidak menemukan yang kamu cari. Setelah itu kamu mencoba dekat dengan
yang ketiga dan berusaha fokus dengannya, tetapi kamu tak kunjung menemukan
yang kamu cari. Kamu tidak menemukan ‘dia yang terbaik’ di antara mereka.
Jika
direnungi, sebenarnya kamu hanya berjalan dan berputar di dalam lingkaran, seperti
bianglala tidak menemukan titik henti di mana kamu menetap di situ dalam jangka
waktu yang lama, bahkan selamanya. Itu semua jelas terjadi karena
kamu terus menerus mencari, belum merasa puas dan cocok pada satu orang.
Kamu malah mempersulit diri sendiri dengan proses
tersebut.
Dan
mungkin kamu tidak pernah memikirkan ada bagian yang menyakitkan dari proses
seleksi itu, yang dirasakan pada orang-orang yang tidak terpilih. Mereka
yang sudah memberikan hampir segalanya padamu, berusaha menjadi yang terbaik
dalam kesempatan yang kamu berikan, dan ternyata pada akhirnya kamu
meninggalkannya, atau hanya kamu jadikan teman.
Memang
cinta itu harus diperjuangkan dan perlu pengorbanan, ‘kan? Tetapi dengan cara
itu, dengan menjadikan mereka pilihan, dengan menyeleksi mereka, hanya akan
menghancurkannya. Pada momen ketika mereka menyatakan perasaannya padamu, dan
kamu menolaknya. Itu akan mengecewakan hati mereka yang berharap besar dapat
memilikimu.
Bayangkan
jika ternyata salah satu dari mereka sungguh-sungguh mencintaimu. Bayangkan
bagaimana hancurnya hati mereka yang telah memperjuangkanmu. Bayangkan ketika
mereka tau ternyata selama ini kamu menjadikannya pilihan…
Bayangkan
jika kamu berada di posisi mereka.
Mengapa
tidak fokus dengan satu orang saja? Meskipun dia banyak kekurangannya, bukankah
cinta seharusnya saling melengkapi satu sama lain? Bukankah cinta itu saling
memperbaiki satu sama lain? Bukankah lebih menyenangkan mencapai
sesuatu dengan seseorang yang bersedia menemanimu sejak mendaki hingga
berada dipuncak?
Yang terbaik adalah dia yang
selalu berusaha memperlakukanmu dengan baik.
Selama
dan sejauh apapun kamu mencari yang terbaik atau sempurna, kamu takkan
menemukannya jika kamu tidak pernah puas, bersyukur, dan yakin pada satu
orang.
Dan pada akhirnya, seseorang yang
kamu cari itu sebetulnya telah ada, di antara mereka yang telah kamu
sia-siakan.
Komentar
Posting Komentar