Simfoni jangkrik terdengar sedikit berbeda kali ini
untuknya. Mungkin karena ia menikmati dengan seseorang yang berbeda. Bersamanya
dalam perasaan ragu.
Ia hanyalah seorang perempuan yang tak pandai bersolek untuk
menjadi bunga. Ia hanyalah seorang perempuan yang tak memiliki kecakapan untuk
membuat orang lain memperhatikannya. Ia hanya seorang perempuan yang tak
berpendidikan tinggi untuk menjadi seorang yang punya nama.
Ia hanya perempuan dengan seribu racun aksara-aksara yang
akan merubah harimu lebih berwarna. Ia hanya perempua dengan segala
penolakan-penolakannya. Ia hanya seorang perempuan yang menyukai pembicaraan
tabu, meski miskin praktik lucu.
Ia hanya perempuan yang penuh dengan ketakutan akan setiap
harinya. Ia hanyalah seorang perempuan yang tidak memiliki selera memikat hati
pria. Ia hanyalah perempuan yang berharap harinya akan selalu bahagia. Ia
hanyalah perempuan yang berdiri sendiri diantara panas dan dingin.
Iya hanyalah perempuan yang memiliki bibir untuk menghibur
meskipun dengan cara yang salah. Ia hanyalah seorang perempuan yang memiliki
telinga untuk mendengarkan teriakan-teriakan yang terkubur malam. Ia hanyalah
seorang perempuan yang memiliki hati untuk menguatkan hati-hati yang lelah dan
putus asa.
Dalam keraguan ia tak coba-coba menebak. Ini realita atau
sandiwara? Ia hanya duduk bersebelahan dengan pria yang baru saja menyentuh
hatinya. Dengan satu harapan ia tak berharap.
Raguku, semoga bukan
sendu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Komentar
Posting Komentar