Langsung ke konten utama

Hanya Perempuan

Simfoni jangkrik terdengar sedikit berbeda kali ini untuknya. Mungkin karena ia menikmati dengan seseorang yang berbeda. Bersamanya dalam perasaan ragu.

Ia hanyalah seorang perempuan yang tak pandai bersolek untuk menjadi bunga. Ia hanyalah seorang perempuan yang tak memiliki kecakapan untuk membuat orang lain memperhatikannya. Ia hanya seorang perempuan yang tak berpendidikan tinggi untuk menjadi seorang yang punya nama.

Ia hanya perempuan dengan seribu racun aksara-aksara yang akan merubah harimu lebih berwarna. Ia hanya perempua dengan segala penolakan-penolakannya. Ia hanya seorang perempuan yang menyukai pembicaraan tabu, meski miskin praktik lucu.

Ia hanya perempuan yang penuh dengan ketakutan akan setiap harinya. Ia hanyalah seorang perempuan yang tidak memiliki selera memikat hati pria. Ia hanyalah perempuan yang berharap harinya akan selalu bahagia. Ia hanyalah perempuan yang berdiri sendiri diantara panas dan dingin.

Iya hanyalah perempuan yang memiliki bibir untuk menghibur meskipun dengan cara yang salah. Ia hanyalah seorang perempuan yang memiliki telinga untuk mendengarkan teriakan-teriakan yang terkubur malam. Ia hanyalah seorang perempuan yang memiliki hati untuk menguatkan hati-hati yang lelah dan putus asa.

Dalam keraguan ia tak coba-coba menebak. Ini realita atau sandiwara? Ia hanya duduk bersebelahan dengan pria yang baru saja menyentuh hatinya. Dengan satu harapan ia tak berharap.

Raguku, semoga bukan sendu

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Sunday

Merindukan seseorang itu wajar, kan? Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah rumah sahabatku, sekitar satu kilometer dari rumahku. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ekterio kedai ini bergaya klasik. Ada tujuh meja berwarna hitam lekat yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat kursi hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan.

! About The Heart

Sejatinya hati adalah organ tubuh yang tak akan bisa kau bohongi. Saat aku menulis ini jam dinding menunjukkan pukul satu lebih empat puluh pagi. Waktu akan terasa lama bagi mereka yang menghitung detik demi detik yang bergulir, sedangkan kehidupan akan terus berjalan tanpa memedulikan arah jarum jam.

Mengapa Kau Bertanya?

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi cappuccino latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan. Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…