Aku si skeptis yang (belum) percaya cinta dapat hadir di
antara dua hati yang baru mengenal.
Untukku, mencintai tak harus diawali oleh melisankan “aku
sayang kamu”. Sebab, bukannya itu ketergesa-gesaan? Atau hanya deretan kata rayuan?
Untukku, mencintai itu refleksi dari kepedulian. Kau tak
perlu merangkai aksara pujian dengan nada-nada. Yang kau butuhkan hanyalah
kesinambungan.
Untukku, mencintai itu sangat sederana. Sesederhana saat kau
hanya ingin ditemani olehnya, lalu bercerita tentang hal yang tak kau ceritakan
pada hati yang lain.
Untukku, mencintai akan membuatmu mau mengerti hati yang kau
cintai. Bukaan menurut pada egomu untuk menuntut pengertiannya setiap hari. Tahukah
kau hati itu organ yang bisa lelah juga?
Untukku, mencintai bukan hanya karena kau butuh kasih
sayang. Mencintai adalah sebuah pengabdian untuk membahagiakan hati lain, hati
dimana dia memang layak dicintai. Dan ketika kau berikrar, itu hanya membuatmu
semakin sulit. Ada secercah tanggung jawab agar kau tak mengecewakannya.
Untukku, menjatuhkan cinta tak sebegitu mudahnya. Pada hati
yang baru ditemui, terutama.
Untukku, sulit untuk percaya (lagi) pada cinta yang baru. Kau
tahukan rasanya selalu ditinggalkan karena cinta? Berulang kali. Hatiku mati.
Dan kali ini aku paham dengan sebuah buku yang berkata “jatuh cinta itu perihal kesiapan diri untuk
menjatuhkan hati pada dia yang membuat hatimu jatuh di hatinya” kurasa itu benar. Tapi sayangnya, sampa detik ini aku lupa caranya jatuh cinta dan mungkin tak ada seorang yang bisa menjatuhkan hatiku, lebih tepatnya menghidupkannya kembali.
"jatuh cinta itu perihal kesiapan diri untuk menjatuhkan hati pada dia yang membuat hatimu jatuh di hatinya”
BalasHapus